Kamis, 19 Juli 2018

PDIP: Ada yang Mengadu Domba dalam Kasus Risma

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Tri Rismaharini. TEMPO/Dasril Roszandi

    Tri Rismaharini. TEMPO/Dasril Roszandi

    TEMPO.CO, Jakarta -- Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan menyatakan ada yang memanfaatkan polemik wacana pengunduran diri  Wali Kota Tri Rismahrini dari jabatannya sebagai Wali Kota Surabaya. Politik adu domba diterapkan karena kebijakan Risma memiliki dampak positif kepada partai yang mengusungnya yaitu PDI Perjuangan.

    "Mungkin tidak suka dengan PDIP yang memperoleh hasil tinggi," kata Ketua PDIP Jawa Timur Sirmadji saat dihubungi, Senin, 17 Februari 2014. Menurut dia, di bawah kepemimpinan Risma, tata kelola Surabaya sangat baik. Tak heran, Sirmadji menjelaskan, banyak yang khawatir ini akan berimbas pada citra positif partai.(baca:Risma Mau Mundur, Elite PDIP Terbang dan Merayu  )

    Sirmadji mengatakan, wacana pengunduran diri Risma dimanfaatkan oleh lawan politik untuk memperkeruh suasana ini. Menurut Sirmadji ada pihak tertentu yang kepentingannya dirugikan oleh kebijakan Risma. Salah satu kebijakan Risma menolak pembangunan tol dalam kota dan pembenahan Kebun Binatang Surabaya. Sirmadji mengatakan, ada pihak tertentu yang menciptakan polemik untuk menambah kegaduhan. "Ini menjadi kemrunguh di media online," kata dia.(Baca juga: Wali Kota Tri Rismaharini Siap Mundur)

    Sirmadji sudah bertemu Risma untuk menyelesaikan persoalan ini. Menurut dia, partainya akan mengawal Risma hingga akhir masa jabatannya. Selain itu, dia juga memberikan dukungan kepada Risma untuk menghadapi isu yang menimpa. "Jangan sampai menggoyahkan tugas dan tanggung jawab untuk memajukan Surabaya," kata dia.

    Memimpin Kota Surabaya sejak Oktober 2010, Risma kini dilanda tekanan sejumlah kekuatan politik di ibu kota Jawa Timur itu. Salah satu tekanan justru datang dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) yang mengajukannya sebagai calon Wali Kota Surabaya pada tiga tahun silam. (Baca juga: Plus Minus Kepemimpinan Wali Kota Risma)

    Partai ini menyorongkan Wisnu Sakti Buana, Ketua PDIP Surabaya, sebagai Wakil Wali Kota Surabaya pengganti tanpa mendiskusikannya terlebih dahulu dengan Risma. Lebih dari sekadar tak cocok, ada kepentingan bisnis di balik penetapan Wisnu.

    Risma menyatakan sama sekali tidak masalah jika harus mundur. “Saya sudah berikan semuanya,” kata satu dari tujuh kepala daerah terbaik pilihan Tempo tahun 2012 ini. “Capek saya ngurus mereka, yang hanya memikirkan fitnah, menang-menangan, sikut-sikutan,” ujarnya. Ketika ditanya siapa yang dimaksud dengan “mereka”, ia tak menjawab.

    WAYAN AGUS PURNOMO

    Berita lain:
    Wisnu: Risma Mundur, Warga Surabaya Rugi
    Wali Kota Risma Tak Butuh Eksis di Media Sosial
    Wali Kota Risma Siapkan Konsep Night Zoo untuk KBS
    Mimpi Wali Kota Risma tentang Surabaya 
    Alasan Risma Tak Pernah Pakai Pengawal Pribadi


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Venna Melinda dan Legislator yang Pindah Partai di Pemilu 2019

    Beberapa politikus pindah partai dalam pendaftaran calon legislator untuk Pemilu 2019 yang berakhir pada 17 Juli 2018. Berikut beberapa di antaranya.