Biaya Tertinggi Rekayasa Hujan Adalah Pesawat  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Petugas mendorong tangki guna dimasukkan bubuk garam yang digunakan falam merekayasa cuaca di Bandara Halim Perdana Kusuma, Jakarta, (14/1). TEMPO/Eko Siswono Toyudho

    Petugas mendorong tangki guna dimasukkan bubuk garam yang digunakan falam merekayasa cuaca di Bandara Halim Perdana Kusuma, Jakarta, (14/1). TEMPO/Eko Siswono Toyudho

    TEMPO.CO, Jakarta - Kepala Unit Pelaksana Teknis Hujan Buatan Badan Penerapan dan Pengkajian Teknologi, Heru Widodo, mengatakan pihaknya mendapat alokasi anggaran sebesar Rp 20 miliar untuk melakukan rekayasa cuaca. Dana tersebut diambil dari anggaran milik Badan Nasional Penanggulangan Bencana.

    "Tapi sistemnya at cost, jadi BNPB membayar apa yang BPPT butuhkan saja, dan itu dibayar di belakang," kata Heru dalam jumpa pers di kantor BPPT, Senin, 20 Januari 2014.

    Duit Rp 20 miliar tersebut, dia melanjutkan, rencananya digunakan untuk rekayasa cuaca selama dua bulan, yakni tanggal 14 Januari-14 Maret 2014. Menurut Heru, alokasi terbesar dari rekayasa cuaca adalah untuk biaya operasional pesawat terbang yang digunakan untuk penyemaian natrium klorida di atas awan. 

    Secara hitungan, biaya operasional pesawat menyedot anggaran sebesar 61 persen. Untuk biaya bahan baku yang disemai, atau natrium klorida, memakan alokasi dana 27 persen. Sisanya, 6 persen untuk gaji atau upah, 4 persen untuk jasa dan sewa, serta kebutuhan penyemaian darat sebesar 2 persen.

    Menurut Heru, biaya operasional pesawat berbeda dengan biaya menyewa pesawat TNI Angkatan Udara. Sebab, yang dikeluarkan hanyalah biaya bahan bakar, perawatan pesawat, serta duit operasional untuk pilot dan kru pesawat. Untuk satu jam terbang dengan pesawat Hercules membutuhkan biaya bahan bakar avtur sekitar Rp 40 juta per jam. Sedangkan untuk biaya perawatannya sekitar US$ 4.000 per jam. 

    Sayangnya, Heru tak mau menyebutkan rinci operasional untuk pilot dan kru pesaawat. "Ya, standarlah, hitungannya saya tak hapal."

    Dalam tujuh hari rekayasa cuaca, BPPT sudah sembilan kali menebar NaCl ke atas awan menggunakan pesawat Hercules. Saat disinggung berapa biaya yang sudah dikeluarkan BPPT, Heru tak mau menjawab. "Belum kami hitung, kan bayarnya di akhir," kata dia.

    Sebelumnya, Heru Widodo mengeluhkan kurangnya tenaga pesawat yang diberikan TNI Angkatan Udara. Sampai saat ini TNI Angkatan Udara baru meminjamkan satu unit pesawat Hercules-nya ke BPPT. Tim BPPT sendiri membutuhkan setidaknya tiga pesawat Hercules untuk bisa terbang enam kali menebar NaCl. Sebab, dengan satu unit pesawat, tim BPPT hanya bisa melakukan dua kali penerbangan tiap harinya.

    INDRA WIJAYA



    Berita terpopuler
    SBY Sakit Hati Tak Jadi Wapres Mega
    Curhat SBY Soal Hubungannya dengan Mega 
    7 Ekspresi Sewot Ani SBY di Instagram 
    Istilah Akil Soal Suap: Emas 3 Ton dan Uang Kecil
    Akil Dituding Bermain di Sengketa Pilkada Bali 
    Nilai Aset Akil yang Disita Capai Rp 200 Miliar


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Dampak Screen Time pada Anak dan Cara Mengontrol

    Sekitar 87 persen anak-anak berada di depan layar digital melebihi durasi screen time yang dianjurkan.