Kelangkaan Minyak Persulit Industri Rotan di Kendari

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO Interaktif, Kendari:Industri pengolahan rotan di Kendari, Sualwesi Tenggara, terancam tidak berproduksi, bahkan bangkrut, menyusul kelangkaan minyak tanah sebulan terakhir. "Minyak tanah sangat dibutuhkan untuk mengolah rotan, dari bahan mentah menjadi siap digarap untuk kerajinan. Sejak Desember lalu pabrik saya tak mendapat pasokan," kata Maskur, pemilik pabrik pengolahan rotan, kepada Tempo News Room di Kendari, Selasa (8/12). Dijelaskan, sebelum dibuat kerajinan, rotan harus direbus dulu. Alatnya berupa tong-tong besar berisi minyak tanah mendidih. Beberapa jam kemudian, setelah kulit terkelupas dan kotoran hilang, rotan-rotan itu berubah menjadi putih bersih, lalu dikeluarkan. Pengrajin mengeringkan, rotan pun siap diolah jadi kerajinan. Pabrik milik Maskur membutuhkan 100-400 liter minyak tanah setiap hari. Ketika kelangkaan minyak tanah melanda Kendari, industri yang menopang hidupnya itu ikut sempoyongan karena tidak adanya pasokan. "Otomatis produksi rotan saya menurun, bahkan beberapa tong mengganggur serta sejumlah karyawan saya rumahkan,” ujarnya. Ia menjelaskan, kejadian serupa juga menimpa pabrik-pabrik pengolah rotan lainnya. Maskur mengatakan, harga minyak tanah dari Pertamina untuk industrinya Rp 1.500 per liter. Harga iotu melambung dua kalilipat, menjadi Rp 3.000-Rp 3.500. Kelangkaan minyak tanah itu juga diikuti seretnya pasokan bahan baku rotan yang sudah diolah. Pasalnya, roda produksi pabrik-pabrik pengolah tersendat-sendat. “Sejak puasa lalu, pesanan cukup banyak. Kami tidak bisa memenuhi karena kesulitan memperoleh bahan baku rotan telah diolah," kata Ny Nuraeni, pengusaha meubel rotan di Kendari. Kepala Pertamina Kendari, Paris Azis, tidak mengerti masalah kelangkaan minyak tanah itu. Ia mengaku telah memberlakukan peraturan keras kepada setiap agen minyak tanah agar teratur memasok itu ke pengecer. "Setiap hari tak kurang 120 kiloliter minyak tanah kami pasok untuk masyarakat Kendari. Saya tak mengerti jika dikatakan minyak tanah itu langka," katanya. (Dedy Kurniawan)

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Rincian Pasal-Pasal yang Diduga Bermasalah di Revisi UU KPK

    Banyak pasal dalam perubahan kedua Undang-Undang Komisi Pemberantasan Korupsi, atau Revisi UU KPK, yang disahkan DPR, berpotensi melemahkan KPK.