Selasa, 20 November 2018

Ini Cara Densus Kejar Buron di Poso  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Baliho DPO teroris Poso. TEMPO/Amar Burase

    Baliho DPO teroris Poso. TEMPO/Amar Burase

    TEMPO.CO, Poso - Melintas di jalur Trans Sulawesi, tepatnya di bundaran Smaker, Poso Kota Utara, Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah, ada pemandangan yang menarik mata. Di sebelah kiri jalan dari arah Poso Kota berjajar sejumlah baliho wajah-wajah calon anggota legislatif Kota Poso dan baliho besar foto Bupati Poso Piet Ingkiriwang dan istrinya menghadap jalan raya.

    Namun, ada satu baliho raksasa menarik, yang berdiri kokoh di ujung jembatan, berjarak sekitar 4 meter dari bundaran. Di baliho berukuran 4 x 8 meter terpampang 17 wajah yang seluruhnya pria. Namun ini bukan wajah para caleg. Saat Tempo mendekati baliho raksasa itu, ternyata 17 wajah itu adalah buronan Detasemenen Khusus 88 Antiteror dalam sejumlah kasus kekerasan yang terjadi di Poso, Sulawesi Tengah, beberapa bulan lalu.

    Selain wajah buruan Densus, baliho juga memuat nama-nama buronan dan pemberitahuan kepada siapa saja yang mengetahui keberadaan mereka untuk menghubungi polisi terdekat.

    Baliho itu dipajang oleh Kepolisian Resor Poso sejak Desember 2012 bersamaan dengan pelaksanaan operasi Aman Maleo 1 dan 2. Polisi menempatkan baliho itu di lokasi bekas ledakan bom oleh terduga kelompok teroris tahun lalu. Ada dua korban akibat ledakan bom di tempat yang dulunya berfungsi sebagai pos polisi lalu lintas itu.

    Ini cara baru Densus memburu para terduga teroris di Poso. Sebelumnya, Densus memilih melakukan operasi tertutup dalam mengejar buruannya. Begitu mereka menemukan buruannya, barulah mereka mengeksposnya ke publik.

    Selain mempublikasikan nama buronannya, cara lain yang dilakukan oleh Densus adalah pendekatan anggota keluarga buron. Densus juga bekerja sama dengan Polres Poso menyebarkan brosur-brosur di tempat-tempat umum.

    Apakah cara ini membuahkan hasil? Dalam catatan Tempo, seorang buron menyerahkan diri dan seorang lainnya ditangkap dalam operasi Aman Maleo 1 dan 2. Keduanya yakni Ali Sannang dan Imran, yang saat ini dikabarkan ditahan di Markas Besar Polri, Jakarta.

    Sebelumnya, polisi memasukkan Imran ke dalam daftar buron terduga teroris di Poso, seperti yang tertera di baliho. Polisi menduga warga Poso Pesisir ini terlibat penemuan bahan peledak atau bom di Gunung Biru, Dusun Tamanjeka, pada 27 Oktober 2012.

    Sedangkan pada 21 Januari 2012, polisi menangkap seorang buron terduga teroris, Ali Sannang alias Papa Khairul, di wilayah Dusun Tamanjeka, Kecamatan Poso Pesisir, Kabupaten Poso. Polisi menduga Ali memiliki bahan peledak di Gunung Biru, Dusun Tamanjeka.

    Setelah Ali ditangkap dan Imran menyerahkan diri, kini polisi tengah mengejar 22 buron terduga teroris lainnya. Salah satu dari mereka adalah Santoso alias Abu Warda alias San alias Pak De alias Komandan. Polisi menduga Santoso sebagai pemimpin kelompok bersenjata di Poso. Selengkapnya berita kontroversi Densus klik di sini.

    AMAR BURASE | MARIA RITA

    Berita Lainnya:
    Teroris Dalang Video Kekerasan Densus?
    Toko Emas Dirampok, 50 Meter dari Polsek Tambora
    Sosiolog: Partai Politik Makin Tak Dipercaya
    Nyamuk Kian Kebal Obat Semprot
    Jokowi Hadiri Acara Honoris Causa Taufik Kiemas


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Empat Sisi Gelap Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman

    Kasus pembunuhan Jamal Khasoggi yang diduga dilakukan oleh Kerajaan Arab Saudi membuat dunia menyorot empat sisi gelap Mohammed bin Salman.