Barisan Muda MU Demo di Istana

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO Interaktif, Jakarta:Sedikitnya 500 massa Barisan Muda Nahdatul Ulama (BMNU) berunjuk rasa di depan Istana Presiden dan Istana Wakil Presiden, Jakarta, Selasa(8/1). Mereka menuntut agar pemerintah bersikap tegas untuk tidak memihak kepada Partai Kebangkitan Bangsa kubu Matori Abdul Jalil. Aksi ini dimulai pukul 12.00 WIB berawal dari Istana Presiden Jalan Merdeka Utara. Massa yang diangkut 12 metro ini itu sempat berorasi sekitar lima belas menit di depan Istana Presiden. Kemudian, massa yang sebagian besar memakai ikat kepala putih dengan tulisan BMNU warna hijau itu, melanjutkan aksinya menuju Istana Wapres di Jalan Medan Merdeka Selatan. Mereka berjalan kaki dikawal aparat kepolisian yang melibatkan Polwan dari Kepolisian Sektor Gambir dan Polres Metro Jakarta Pusat sebanyak 1 SSK. Tiba di depan Istana Wapres, sebuah mobil truk pembawa alat pengeras suara di barisan paling depan menghentikan lajunya. Kemudian massa yang di belakangnya membentuk barisan untuk mendengarkan orasi Ketua BMNU Kyai Haji Nuril Arifin yang mengenakan jubah putih, syal bergaris dan berpeci hitam. Di atas truk Nuril memegang mikrofon warna hitam. “Kami meminta Presiden dan Wapres memperhatikan nasib rakyat yang semakin menderita. Jangan hadapkan kami dengan orang-orang yang bermasalah,”ujar dia dengan dialek Jawanya. Dengan nada yang berapi-api Nuril menghendaki Presiden dan Wapres memecat Menteri Pertahanan Matori Abdul Djalil karena telah membuat polemik berkepanjangan di tubuh PKB. “Ia telah datang ke daerah-daerah untuk meminta dukungan bupati-bupati dan Kodim menggunakan kekuasaannya. Kami minta dia dipecat,”ujarnya disambut tepukan massa sambil mengibarkan bendera putih BMNU dan PKB. Hingga pukul 13.30, aksi masih terus berlangsung. Nuril dan kordinator lapangan aksi itu, Sismanu bersama beberapa perwakilan bernegosiasi dengan pihak protokoler Istana. Sambil menunggu izin bertemu Wapres, mereka menunggu di depan pintu gerbang sisi kiri Istana dan melakukan sembahyang dzuhur. “Kalau beliau tidak bersedia menemui, kita tidak akan meninggalkan tempat ini,” kata Nuril sambil duduk tanpa alas di atas aspal. Sismanu kepada Tempo News Room mengatakn, aksi kali ini atas prakarsa dan dorongan dari warga NU sendiri. Mereka datang karena tergugah tidak ingin menjadi korban konflik para elite yang hanya memperhatikan kekuasaan semata. “Duet Mega-Hamzah itu belum menghasilkan apa-apa. Jangan sampai karena seorang menteri bermasalah rakyat jadi korban,” kata dia. (Eduardus Karel Dewanto)

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Hal Penting di Rengasdengklok Sebelum Proklamasi 17 Agustus 1945

    Satu hari sebelum teks Proklamasi dibacakan, ada peristiwa penting dalam sejarah Indonesia. Kejadian itu dikenal sebagai Peristiwa Rengasdengklok.