Kenapa Miranda Tebar Senyum di Pengadilan?

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Terdakwa, Miranda Swaray Goeltom mendengarkan dakwaan JPU dalam persidangan di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi, Jakarta, Selasa (24/7).  Miranda S. Goeltom menjalani sidang perdana terkait kasus suap 480 lembar travellers cheque BII senilai Rp 20,850 miliar terhadap sejumlah anggota DPR RI melalui Nunun Nurbaeti untuk pemenangan dirinya sebagai Mantan Deputi Gubernur Senior BI pada tahun 2004. TEMPO/Seto Wardhana

    Terdakwa, Miranda Swaray Goeltom mendengarkan dakwaan JPU dalam persidangan di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi, Jakarta, Selasa (24/7). Miranda S. Goeltom menjalani sidang perdana terkait kasus suap 480 lembar travellers cheque BII senilai Rp 20,850 miliar terhadap sejumlah anggota DPR RI melalui Nunun Nurbaeti untuk pemenangan dirinya sebagai Mantan Deputi Gubernur Senior BI pada tahun 2004. TEMPO/Seto Wardhana

    TEMPO.CO, Jakarta - Ada alasan senyum terus mengembang pada bibir Miranda Swaray Goeltom, Senin, 13 Agustus 2012, di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta. Sepanjang mendengarkan kesaksian tiga orang dari Fraksi TNI/Polri Dewan Perwakilan Rakyat 2004; Udju Djuhaeri, Suyitno Landung, dan Darsup Yusup, terdakwa kasus suap itu juga tampak tenang dan tanpa beban.

    Ditemui usai sidang, Miranda mengungkap di balik sesungging senyumnya. "Saya tersenyum bahagia, karena akhirnya publik tahu dari persidangan hari ini maupun persidangan kemarin, tidak ada satupun dakwaan jaksa yang terbukti," kata dia.

    Menurut Miranda, keterangan Suyitno, Udju, dan Darsup, tidak membuktikan tuduhan jaksa benar. Di antaranya soal pertemuan di kediaman Nunun Nurbaetie di Cipete, Jakarta Selatan, guna melobi sejumlah anggota Dewan. Pertemuan yang difasilitasi Nunun itu disebut jaksa dihadiri tiga politikus DPR 1999-2004, yakni Paskah Suzetta, Hamka Yandhu, dan Endin J. Soefihara.

    "Tidak ada pertemuan Cipete, tidak ada proyek 'thank you'. Tidak benar saya diperkenalkan kepada siapapun oleh Bu Nunun," ujarnya.

    Miranda mengklaim, keterangan ketiga saksi juga merujuk pada simpulan dia tak pernah meminta anggota Dewan manapun untuk memilihnya. Udju yang tidak memilih Miranda dalam seleksi pun, kata Miranda, tetap mendapat jatah cek pelawat senilai Rp 500 juta. Karena itu, Miranda menilai cek pelawat memang tidak ada hubungan apa pun dengannya.

    Miranda dijerat dakwaan alternatif berlapis. Ia disebut bersama-sama dengan koleganya, Nunun Nurbaetie, memberi cek pelawat Bank Internasional Indonesia ke sejumlah anggota Komisi Keuangan DPR periode 1999-2004.

    ISMA SAVITRI

    Berita Populer:
    Seks di Kampung Atlet Olimpiade
    Ramai-ramai Klinik Tong Fang, Begini Praktiknya
    Ahok: Lagu Bang Rhoma Membuat Saya Tak Ikut Judi
    Kasus Simulator SIM, Pemimpin KPK Disadap Polisi?
    Mengapa Nenek Moyang Kita Tidak Kegemukan?
    Anak Muda Tak Lagi Gandrungi Produk Apple


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Penggerogotan Komisi Antirasuah, Isu 75 Pegawai KPK Gagal Tes Wawasan Kebangsaan

    Tersebar isu 75 pegawai senior KPK terancam pemecatan lantaran gagal Tes Wawasan Kebangsaan. Sejumlah pihak menilai tes itu akal-akalan.