Setelah 'Kiamat' Sekte Sibuea Tak Terjadi

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO Interaktif, Bandung: "Meski kiamat tak terjadi, saya tetap yakin dengan ajaran Pendeta Mangapin Sibuea." Ina, 21 tahun, salah satu anggota jemaat Sibuea, mengungkap hal itu saat ditemui wartawan di Gereja Bethel Tabernakel Shekinah, Bandung, Selasa (11/11).Ia tak peduli dengan banyaknya tanggapan sinis dan nyinyir terhadap kelompoknya. "Bukankah Tuhan Yesus juga pernah dihina dan dicaci. Ikut Tuhan Yesus harus menderita, bukan enak-enak saja," ujarnya, tenang. Begitu yakinnya dengan kepercayaan itu, mahasiswi Fakultas Ekonomi, Universitas Kristen, Kupang, ini rela meninggalkan bangku kuliah dan pergi ke Bandung, sejak Maret 2003. Ia mengaku mendengar suara Tuhan pertama kali saat kuliah 2001. Suara-suara itu antara lain meminta dia untuk pergi ke Baleendah.Ina adalah satu dari sekitar 300 pengikut sekte Sibuea. Mereka dievakuasi polisi dari 'Pondok nabi' markas mereka di Jalan Siliwangi, Baleendah, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, ke Gereja Bethel Tabernakel, Senin (10/11).Selain Ina yang sudah berada di asrama 'Pondok Nabi,' ada juga Raymond asal Ambon, dan Hermina Nainggolan asal Medan. Bersama sekitar 300 orang jemaat yang lain, mereka berkumpul dan melakukan ritual, seperti menyanyi, menari, dan berpuasa, ada yang 3 hari 3 malam tak makan, ada juga yang 7 hari 7 malam tak makan. Semua itu dilakukan untuk bersiap-siap menjemput Kiamat, 10 November 2003. Sebelum polisi mengevakuasi paksa, Raymond mengaku sempat mulai diangkat ke langit. Tapi, semuanya gagal karena ada gangguan dari pihak luar. "Saat itu, mulai terasa ada yang masuk ke tubuh saya. Ada perasaan seakan-akan saya mulai diangkat," kata Raymond, yang bergabung sejak Juli 2003 itu. Bagi ketiga jemaat, Mangapin Sibuea adalah sosok panutan yang menyebar ajaran kebenaran. Tak hanya oleh mereka, tapi juga oleh anggota jemaat yang lain. Tak tanggung-tanggung, menurut Raymond, jemaatnya terdiri dari banyak kalangan. Selain wiraswasta, ada mahasiswa, sarjana, bahkan sarjana strata dua. Semua seide, satu kata dan perbuatan. Lahir di Pematangsiantar, Sumatera Utara, Sibuea, 65 tahun, sempat mengenyam pendidikan di Sekolah Alkitab Gereja Pantekosta Siantar (1964-1965). Selain itu, ia juga mendalami ilmu agama di Sekolah Alkitab Gereja Pantekosta di Beji, Batu, Malang, Jawa Timur (1966). Dalam karirnya, ia pernah menjadi pendeta di gereja Pantekosta Filadelfia pada tahun 1980-1999. Tapi, pada 9 September 1999, ia dikeluarkan karena tindakan indisipliner. Sibuea ramai menjadi perbincangan karena mengklaim sebagai Paulus II, Rasul Allah di akhir zaman. Selain itu, ia juga meramalkan akan terjadinya Hari Kiamat. Seperti terungkap dalam bukunya bertajuk "Kiamat Dunia Segera akan Terjadi," yang terbit di Bandung pada 1999, ia mengaku mendapat wahyu dari Roh Kudus. Ada sejumlah hal yang disampaikan, antara lain, akhir dari akhir zaman akan terjadi pada 10 November 2003, akhir dari akhir zaman akan terjadi pengangkatan kelompok Sibuea antara pukul 09.00-15.00 WIB, dan anti-Kristus akan menguasai dunia mulai 10 November 2003 hingga 11 Mei 2007. Selain soal ramalan, buku itu juga disebut sebagai "Buku di atas segala buku. Bahkan, lebih tinggi otoritasnya dibanding dengan Alkitab yang diyakini gereja sebagai Firman Allah yang Hidup." Walhasil, setelah mencemati ajaran-ajaran Sibuea, pada 21 Juni 2000, Tim Koordinasi Pengawasan Aliran Kepercayaan Masyarakat Kabupaten Bandung memutuskan untuk melarang ajaran Sibuea. Buku, selebaran, dan VCD yang menyebarluaskan ajarannya juga dilarang beredar. Cuma, tak jelas, kenapa akhirnya Sibuea tetap bisa menjalankan ritual bersama jemaatnya, sebelum akhirnya ditahan Kejaksaan Negeri Bandung, pada 23 Oktober lalu. Ramalannya jelas tak terbukti. Meski jemaatnya masih meyakini, mungkin Sibuea harus siap mengambil risiko dari janji yang dia torehkan di sampul belakang bukunya. Di situ dia menulis, "Bila tanggal (yang Anda terima dari Allah Bapa berbeda dengan tanggal 10 November 2003, suratilah kami dan silahkan mengutuki kami jemaat palsu, guru palsu, nabi palsu, rasul palsu, dan lain-lain."Tanggal yang dijanjikan sudah lewat dan kiamat tak terjadi. Dwi Wiyana dan Bobby Gunawan - Tempo News Room

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Curah Hujan Ekstrem dan Sungai Meluap, Jakarta Banjir Lagi

    Menurut BPBD DKI Jakarta, curah hujan ekstrem kembali membuat Jakarta banjir pada 23 Februari 2020.