Lupa Kata Sandi? Klik di Sini

atau Masuk melalui

Belum Memiliki Akun Daftar di Sini


atau Daftar melalui

Sudah Memiliki Akun Masuk di Sini

Konfirmasi Email

Kami telah mengirimkan link aktivasi melalui email ke rudihamdani@gmail.com.

Klik link aktivasi dan dapatkan akses membaca 2 artikel gratis non Laput di koran dan Majalah Tempo

Jika Anda tidak menerima email,
Kirimkan Lagi Sekarang

4 Orang Tewas Terlibat Carok di Bangkalan, Ini Tradisi Bela Harga Diri Masyarakat Madura

image-gnews
Celurit. tokopedia.com
Celurit. tokopedia.com
Iklan

TEMPO.CO, Jakarta - Empat orang tewas setelah terlibat carok di Bangkalan, Jawa Timur pada Jumat malam, 12 Januari 2024 lalu. Korban adalah Matterdam, Mattanjar, Najehri, dan Hafid warga Desa Larangan Timur. Nyawa mereka melayang setelah melawan Hasan Busri dan Mochamad Wardi dalam gelut maut tersebut.

“Dua tersangka adalah kakak-adik warga Desa Bumianyar,” kata Kepala Kepolisian Resor Bangkalan Ajun Komisaris Besar Febri Isman Jaya, kepada media, Senin, 15 Januari 2024.

Apa itu Carok?

Disadur dari buku Carok: Konflik Kekerasan dan Harga Diri Orang Madura (2002), oleh A. Latief Wiyata, carok berasal dari bahasa Kawi Kuno, ecacca erok-orok yang berarti dibantai atau mutilasi. Secara definitif, carok adalah sebuah tradisi menyabung nyawa dalam menyelesaikan suatu konflik yang terjadi dalam kehidupan bermasyarakat suku Madura.

Masyarakat Madura memegang teguh peribahasa “katembheng pote mata ango’a poteya tolang” yang memiliki arti “daripada menanggung malu, lebih baik berkalang di tanah”. Peribahasa ini melekat pada tiap insan masyarakat Madura yang menandakan upaya mempertahankan harga diri dari tiap individu masyarakat Madura sangatlah tinggi.

Tradisi carok dianggap sebagai salah satu cara menyelesaikan suatu perkara yang menyangkut harkat dan martabat. Pada praktiknya, carok dilakukan baik antar perseorangan, kelompok, bahkan antar keluarga. Penyebab terjadinya carok biasanya dikarenakan harga diri, perebutan takhta di keraton, perselingkuhan, hingga sengketa tanah.

Pada umumnya, carok dilakukan antar laki-laki yang dianggap telah melakukan suatu pelecehan harga diri yang memalukan. Biasanya masyarakat Madura menggunakan senjata tradisional khas suku Madura, yaitu “Celurit”. Celurit yang dipakai untuk carok sendiri berupa senjata tajam berbentuk melengkung yang awalnya digunakan untuk menyabit rumput.

Sebenarnya, carok dilakukan masyarakat Madura tidak dengan secara asal tebas. Ada peraturan dan syarat-syarat yang harus terpenuhi sebelum seseorang ingin melakukan carok sebagai penyelesaian perkara. Pemicu utama dari budaya carok adalah ketika harga diri dan martabat seseorang terlukai, tercemar, ataupun terinjak-injak.

Dalam tradisi carok sendiri memang terdapat suatu pelanggaran hukum, yakni pembunuhan. Akan tetapi, pembunuhan dalam carok tidak mudah disebut sebagai pembunuhan karena dalam carok itu sendiri terkandung nilai-nilai budaya dan tradisi yang telah mengakar dalam kehidupan masyarakat adat Madura.

Sejarah carok

Dinukil dari studi Budaya Carok Sebagai Kearifan Lokal Masyarakat (2017) oleh Syamsul Arifin dari STAIN Kudus, meskipun telah dilakukan secara turun temurun, istilah carok belum muncul baik pada abad 12 M, masa di mana kerajaan Madura dipimpin oleh Prabu Cakraningrat hingga pada abad 17 M, masa pemerintahan Penembahan Semolo.

Istilah carok mulai muncul di masa kolonial Belanda sekitar abad ke-17 M. Pada masa itu, Belanda menduduki Nusantara termasuk wilayah pulau Madura tanpa terkecuali. Banyak peristiwa dengan kekerasan yang menyasar kepada masyarakat Madura. Terutama ketika kongsi dagang VOC menginjakkan kaki di Madura untuk pertama kalinya.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Sejarah carok dapat ditelusuri melalui cerita rakyat Madura yang berkembang. Carok bermula ketika terjadi perkelahian antara Sakera yang merupakan mandor tebu di pabrik gula milik Belanda dengan Brodin, Markasan dan Carik Rembang yang merupakan antek-antek Belanda. Carik Rembang pada saat itu diperintahkan oleh Belanda untuk mencarikan lahan guna ekspansi pabrik gula.

Carik Rembang pun melakukan cara licik. Dia melakukan teror kepada pemilik tanah guna mendapatkan harga murah. Cara kekerasan hingga iming-iming kekayaan juga digunakan untuk membujuk pemilik tanah untuk menjual tanahnya. Melihat kejadian tersebut, Sakera terketuk hatinya untuk membela masyarakat kecil. Sakera mengupayakan berbagai hal untuk menggagalkan usaha Carik Rembang.

Hingga pada suatu ketika Carik Rembang melaporkan Sakera kepada pihak Belanda. Mengetahui ada pihak yang mengganggu upayanya, Belanda pun ingin membunuh Sakera dengan menyuruh Markasan. Markasan pun menemui Sakera pada jam istirahat di pabrik tebu untuk mengajak Sakera ecacca erok-orok. Adu kekuatan inilah yang kemudian hari berkembang menjadi carok.

Konon di wilayah Madura pedalaman, tradisi carok ini sampai turun temurun. Keluarga korban carok akan menyimpan baju mendiang di rumah tetangganya, yang kelak akan diperlihatkan pada anak korban setelah dewasa. Anak yang bersangkutan akan menuntut balas dengan mencari dan membunuh pembunuh ayahnya, dan begitu seterusnya sampai keturunan selanjutnya.

Carok di mata masyarakat Madura

Dikutip dari studi Sikap Masyarakat Madura Terhadap Tradisi Carok: Studi Fenomenologi Nilai-Nilai Budaya Masyarakat Madura (2015) dalam jurnal El Harakah, carok dapat dilakukan secara ngonggai (menantang duel satu lawan satu) atau nyelep (menikam musuh dari belakang). Di zaman awal kemunculannya, carok banyak dilakukan dengan cara ngonggai. Semenjak 1970-an terdapat pergeseran, carok kadang kala dilakukan secara nyelep.

Dengan adanya kebiasaan melakukan carok dengan cara nyelep, etika yang bermakna kejantanan bergeser menjadi brutali dan egois. Tradisi carok sendiri telah membawa konotasi negatif terhadap masyarakat Madura. Orang Madura acap dikaitkan dengan perilaku yang kasar dan arogan, bahkan menakutkan. Stereotip ini, meskipun tidak selalu mencerminkan realitas yang sebenarnya, memberikan citra buruk pada masyarakat Madura.

Meski masyarakat Madura dikonotasikan negatif, studi pada 2015 tersebut menunjukkan hasil sebaliknya. Berdasarkan hasil analisis, ditemukan empat sikap individu terhadap carok meliputi: 75 persen tidak senang memiliki tradisi carok, 60 persen tidak melakukan carok, 77,38 persen, menyelesaikan persoalan secara bijak tanpa carok, dan 77,40 persen tidak melakukan carok karena taat terhadap hukum negara dan agama.

Penelitian juga mengategorikan lima sikap kelompok orang Madura terhadap carok meliputi: 64,16 persen menerima carok bukanlah budaya orang Madura, 81,11 persen menyatakan masyarakat Madura cinta damai, 86,11 persen menyatakan carok tidak mewakili orang Madura, 82,44 persen menerima carok merupakan perbuatan keji dan melanggar hukum, dan 76,11 persen menyatakan akan menyelesaikan persoalan secara bijak tanpa carok.

Pilihan Editor: Dua Kubu Korban Carok Massal Berdamai, Polisi Pun...

Iklan



Rekomendasi Artikel

Konten sponsor pada widget ini merupakan konten yang dibuat dan ditampilkan pihak ketiga, bukan redaksi Tempo. Tidak ada aktivitas jurnalistik dalam pembuatan konten ini.

 

Video Pilihan

Rangkaian Kasus Carok, Terbaru Tewaskan Satu Orang di Tangan Pamannya Sendiri di Bangkalan Madura

11 hari lalu

Celurit. tokopedia.com
Rangkaian Kasus Carok, Terbaru Tewaskan Satu Orang di Tangan Pamannya Sendiri di Bangkalan Madura

Kasus carok kembali terjadi di Bangkalan yang menewaskan satu orang di tangan pamannya sendiri. Kasus carok masih kerap terjadi di Madura.


Ragam Tradisi Sambut Kepulangan Jemaah Haji, Ada Mappatoppo Talili di Makassar dan Asajere di Madura

14 hari lalu

Keluarga menyalami jemaah haji kloter 16 Kabupaten Purbalingga usai tiba di pendopo Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah, Kamis 27 Juni 2024. Sebanyak 7.973 jemaah haji Indonesia mulai diterbangkan pulang ke tanah air secara bertahap dari Jeddah menuju sejumlah embarkasi yang disiapkan pemerintah. Tempo/Budi Purwanto
Ragam Tradisi Sambut Kepulangan Jemaah Haji, Ada Mappatoppo Talili di Makassar dan Asajere di Madura

Masyarkat di Indonesia, punya beberapa tradisi yang dilakukan untuk menyambut jemaah haji pulang kembali ke kampung halamannya.


Pemuda di Madura Tusuk Teman Hingga Tewas Gara-gara Akrab dengan Mantan Istri

16 hari lalu

Ilustrasi pembunuhan menggunakan senjata tajam. shutterstock.com
Pemuda di Madura Tusuk Teman Hingga Tewas Gara-gara Akrab dengan Mantan Istri

Yasid, 31 tahun, pemuda di Bangkalan Madura tak bisa menahan amarah gara-gara temannya justru akrab dengan mantan istri. Ditusuk hingga tewas.


Pria di Madura Meninggal di Atas Panggung Orkes Dangdut

17 hari lalu

Ilustrasi tewas atau jenazah atau jasad. shutterstock.com
Pria di Madura Meninggal di Atas Panggung Orkes Dangdut

Seorang pria di Madura meninggal saat hendak menyawer biduan orkes Dangdut. Almarhum diduga memiliki riwayat penyakit jantung


Jasad Hangus Terbakar di Madura Ternyata Perempuan, Tengkorak Kepala Hilang

21 hari lalu

Ilustrasi mayat. AFP/JEFF PACHOUD
Jasad Hangus Terbakar di Madura Ternyata Perempuan, Tengkorak Kepala Hilang

Jasad yang tinggal tulang belulang itu diperkirakan berusia 20 tahunan. Organ dalam seperti jantung dan paru-paru hancur tak bersisa.


Geger Penemuan Mayat Terbakar di Tengah Ilalang di Madura

22 hari lalu

Penyidik Polres Bangkalan, Jawa Timur, menggelar olah tempat kejadian perkara, di lokasi penemuan mayat terbakar. Tempo/Musthofa Bisri
Geger Penemuan Mayat Terbakar di Tengah Ilalang di Madura

Dari sejumlah video amatir yang beredar di grup WhatsApp, nampak mayat tersebut telah tinggal rangka dengan abu sisa pembakaran.


Daftar 5 Destinasi Wisata Paling Direkomendasikan di Pulau Madura

31 hari lalu

Pantai Lombang, Sumenep, Madura, Jawa Timur. Tempo/Rully Kesuma
Daftar 5 Destinasi Wisata Paling Direkomendasikan di Pulau Madura

Pulau Madura, yang terletak di sebelah utara Jawa Timur, Indonesia, menawarkan keindahan alam yang memikat serta warisan budaya yang kaya.


21 Tahun Jembatan Suramadu, Berikut 7 Fakta Pembangunan Jembatan Berbiaya Rp 4,5 Triliun

32 hari lalu

Suasana Jembatan Suramadu di Surabaya, Jawa Timur, Sabtu, 27 Oktober 2018. ANTARA
21 Tahun Jembatan Suramadu, Berikut 7 Fakta Pembangunan Jembatan Berbiaya Rp 4,5 Triliun

Jembatan Suramadu 21 tahun. Ini 7 fakta pembangunan Jembatan Suramadu alias Surabaya-Madura yang menjadi salah satu ikon di Jawa Timur.


Kilas Balik 21 Tahun Jembatan Suramadu, Ini Kontribusi Presiden dari Sukarno hingga SBY

33 hari lalu

Penumpang kapal Kirana VII melihat arsitektur Jembatan Suramadu di Surabaya, Jawa Timur, Rabu, 8 Juni 2022. Jembatan Suramadu merupakan jembatan terpanjang di Indonesia saat ini. TEMPO / Hilman Fathurrahman W
Kilas Balik 21 Tahun Jembatan Suramadu, Ini Kontribusi Presiden dari Sukarno hingga SBY

Jembatan Suramadu menyatukan Pulau Madura dan Jawa. Kecuali Jokowi, presiden sebelumnya berkontribusi mewujudkan jembatan ini.


Gelar Aksi Laku Melaku Bawa Obor, Petani Pundenrejo: Simbol Perjuangan Terus Menyala

42 hari lalu

Lokasi lahan garapan masyarakat petani di Pundenrejo, Pati, Jawa Tengah, yang sedang diperjuangkan untuk direklaim. ISTIMEWA.
Gelar Aksi Laku Melaku Bawa Obor, Petani Pundenrejo: Simbol Perjuangan Terus Menyala

Puluhan petani warga Desa Pundenrejo, Pati, menuntut pengembalian lahan garapan turun temurun yang kini dikuasai perusahaan pemilik pabrik gula.