DVR CCTV di Sekitar Rumah Dinas Ferdy Sambo Disebut Dimatikan Secara Tidak Normal

Editor

Febriyan

Terdakwa dugaan kasus Obstruction of Justice atau penghalangan penyidikan kematian Nofriyansyah Yosua Hutabarat atau Brigadir J, Hendra Kurniawan dan Agus Nurpatria bersiap menjalani sidang lanjutan di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Kamis, 1 Desember 2022. Sidang tersebut beragendakan mendengarkan keterangan saksi yang dihadirkan oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU). Saksi yang dihadirkan yakni dua anggota Propam Polri bernama Radite Hernawa dan Agus Syariful Hidayat. Selain Hendra Kurniawan dan Agus Nurpatria, Arif Rahman Arifin, Baiquni Wibowo, Irfan Widyanto dan Chuck Putranto juga menjalani persidangan dugaan kasus Obstruction of Justice pembunuhan Brigadir J di PN Jakarta Selatan. TEMPO / Hilman Fathurrahman W

TEMPO.CO, Jakarta - Anggota Pusat Laboratorium Forensik (Puslabfor) Polri Hery Priyanto mengatakan DVR CCTV di sekitar rumah dinas mantan Kepala Divisi Profesi dan Pengamanan, Irjen Ferdy Sambo, rusak akibat dimatikan secara tidak normal. DVR CCTV itu menyimpan rekaman yang menjadi barang bukti kasus kematian Brigadir Nofriansyah Yosua Hutabarat alias Brigadir Yosua. 

Hery menyatakan hal itu saat menjadi saksi dalam sidang kasus penghalangan penyidikan atau obstruction of justice dengan terdakwa Hendra Kurniawan dan Agus Nurpatria di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Kamis, 1 Desember 2022. Dia menyatakan DVR itu dimatikan secara tidak normal atau abnormal shutdown antara 8-13 Juli 2022.

“Kami temukan jejak digital berupa abnormal shutdown. Pada tanggal 13 juli 2022 sebanyak 17 kali, 12 juli 2022 sebanyak 7 kali, 10 juli sebanyak satu kali, dan 8 juli sebanyak satu kali,” kata Hery.

Puslabfor memeriksa DVR CCTV yang sudah dalam kondisi rusak

Puslabfor, menurut Hery, mendapatkan barang bukti satu unit hard disk warna hitam dengan kapasitas 1 Tera Bita, DVR CCTV, dan laptop Microsoft Sureface hitam yang rusak. Adapun DVR yang diperiksa adalah barang bukti yang diserahkan oleh Polres Jakarta Selatan.

Berdasarkan pemeriksaan ahli forensik, menurut Hery, satu unit DVR yang mereka periksa memiliki hard disk yang tak terdeteksi. Puslabfor lantas melakukan pemeriksaan lebih mendalam dan kembali harddisk tersebut tidak dikenali sebagai file sistem atau tidak terdapat file apapun.

Penyebab DVR CCTV rusak

Selanjutnya, Puslabfor menganalisa jejak data pada DVR dengan mengambil sampling dari 8-13 Juli. Hasilnya, mereka menemukan jejak digital berupa abnormal shutdown atau dimatikan secara tidak wajar sebanyak 26 kali.

Hery mengatakan tindakan abnormal dari hasil analisa jejak data,  ternyata DVR dimatikan secara tidak normal. Apabila dimatikan secara normal, menurut dia, maka akan ada jejak penghidupan dan pematian DVR tersebut. Sedangkan, jika menemukan log file abnormal shutdown maka ada upaya mematikan secara paksa atau tidak prosedural, seperti mati listrik atau dicabut.

“Efeknya bisa berpengaruh kepada sistem penyimpanan yang ada di DVR tersebut,” kata Hery.

“Hilang?” tanya Hakim Ketua Ahmad Suhel.

“Bisa Yang Mulia, atau tidak terdeketsi. Karena ketika DVR kita nyalakan seperti sebuah komputer, memiliki sistem harddisk yang mana merekam kegiatan ketika berputar. Ketika kita matikan secara tidak normal, mati paksa, maka akan terkunci. Namun ada beberapa kali, dua kali sampai tiga kali, maka akan timbul dari beberapa kasus harddisk tersebut tidak terbaca dan akan rusak. Harddisk tersebut akan rusak di dalamnya,” tutur Hery.

Hery mengatakan dia menjadi anggota Puslabfor Polri sejak 2005. Keahliannya merupakan Digital Forensik dan Komputer Forensik. Ia mengaku mengenal Hendra Kurniawan sebelumnya.

Hery mengatakan ia pernah menjadi saksi ahli di sidang Djoko Tjandra dan Muhammad Kace. Dalam perkara obstruction of justice kasus Brigadir J, ia ditugaskan untuk memeriksa barang bukti digital. 

“Berdasarkan nota dinas Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri, saya ditugaskan untuk pemeriksaan barang bukti digital dalam kasus pembunuhan Brigadir J,” kata Hery.

Perusakan DVR CCTV dan dakwaan obstruction of justice

Rekaman dalam DVR CCTV itu dianggap penting dalam membongkar kejanggalan kematian Brigadir Yosua. Hendra Kurniawan dan para tersangka kasus obstruction of justice lainnya didakwa menghilangkan rekaman tersebut. 

Dalam dakwaan jaksa, Hendra cs menghilangkan rekaman itu atas perintah Ferdy Sambo. Hal itu berawal ketika Hendra mendapatkan perintah dari Sambo untuk melihat seluruh rekaman CCTV di sekitar rumah dinasnya yang menjadi lokasi pembunuhan Brigadir Yosua. 

Hendra lantas meneruskan perintah itu kepada Agus Nurpatria yang kemudian mencopot DVR CCTV itu dari pos satpam di Komplek Polri Duren Tiga bersama Irfan Widyanto.

Setelah dicopot, Agus menyerahkan DVR CCTV itu kepada Arif Rahman Hakim untuk diperiksa. Berdasarkan pemeriksaan Arif itulah diketahui bahwa cerita Sambo bohong. Pasalnya, menurut Arif yang menonton rekaman itu bersama Chuck Putranto dan Baiquni Wibowo, Yosua tampak masih hidup saat Sambo tiba di sana. Padahal, Sambo sebelumnya menceritakan dirinya tiba saat Yosua telah tewas akibat tembak menembak dengan Richard Eliezer Pudihang Lumiu.

Arif pun melaporkan hal itu kepada Ferdy Sambo dengan ditemani oleh Hendra Kurniawan. Namun Sambo justru memerintahkan Arif untuk menghapus rekaman tersebut. Arif, menurut dakwaan jaksa, mematahkan laptop milik Baiquni Wibowo yang digunakan untuk menyimpan rekaman tersebut. Akan tetapi, Baiquni sempat menyalin rekaman itu dalam sebuah flashdisk yang kemudian ditemukan oleh Timsus Polri. 






Pengacara Chuck Putranto Sebut Tak Ada Bukti Kliennya Perusak DVR CCTV

15 jam lalu

Pengacara Chuck Putranto Sebut Tak Ada Bukti Kliennya Perusak DVR CCTV

Pengacara Chuck Putranto, Daniel Sony Pardede menyebut kliennya bukan pelaku pemusnahan rekaman CCTV yang mengungkap skenario pembunuhan


Takut Dimata-matai, Australia Copot CCTV Buatan China

16 jam lalu

Takut Dimata-matai, Australia Copot CCTV Buatan China

Sejumlah CCTV buatan China di area tugu peringatan perang nasional Australia akan dicopot karena pejabat khawatir digunakan untuk memata-matai


Upaya Baiquni Wibowo Backup Rekaman CCTV Dianggap Penolakan Perintah Ferdy Sambo

17 jam lalu

Upaya Baiquni Wibowo Backup Rekaman CCTV Dianggap Penolakan Perintah Ferdy Sambo

Tim kuasa hukum mengatakan Baiquni Wibowo tidak pernah menerima langsung perintah dari Ferdy Sambo.


Duplik Baiquni Wibowo Singgung Soal Penyerahan Rekaman CCTV Lingkungan Rumah Dinas Ferdy Sambo

19 jam lalu

Duplik Baiquni Wibowo Singgung Soal Penyerahan Rekaman CCTV Lingkungan Rumah Dinas Ferdy Sambo

Tim kuasa hukum menilai jaksa tak menghargai tindakan Baiquni WIbowo yang menyerahkan rekaman CCTV lingkungan rumah dinas Ferdy Sambo secara sukarela.


Sidang Obsturction of Justice Pembunuhan Brigadir Yosua, Chuck Putranto Akan Ajukan Duplik Hari Ini

21 jam lalu

Sidang Obsturction of Justice Pembunuhan Brigadir Yosua, Chuck Putranto Akan Ajukan Duplik Hari Ini

Terdakwa kasus obstruction of justice pembunuhan Brigadir Yosua, Chuck Putranto, akan mengajukan duplik hari ini.


Babak Akhir Kasus Pembunuhan Berencana Yosua: Vonis Ferdy Sambo 13 Februari

1 hari lalu

Babak Akhir Kasus Pembunuhan Berencana Yosua: Vonis Ferdy Sambo 13 Februari

Sidang kasus pembunuhan berencana terhadap Brigadir Yosua segera memasuki babak akhir. Vonis Ferdy Sambo akan dibacakan Senin, 13 Februari.


122 Akademisi Minta Majelis Hakim Vonis Richard Eliezer Lebih Ringan dari Terdakwa Lain

1 hari lalu

122 Akademisi Minta Majelis Hakim Vonis Richard Eliezer Lebih Ringan dari Terdakwa Lain

Aliansi meminta majelis hakim mempertimbangkan status Richard Eliezer sebagai justice collaborator dalam menjatuhkan vonis.


TKP Pembunuhan Sopir Taksi Online di Depok di Jalan Sepi, Pengurus Lingkungan Imbau Warga Pasang CCTV

2 hari lalu

TKP Pembunuhan Sopir Taksi Online di Depok di Jalan Sepi, Pengurus Lingkungan Imbau Warga Pasang CCTV

Lokasi TKP Pembunuhan sopir taksi online Sony Rizal Taihitu di Perumahan Bukit Cengkeh 1 Jalan Nusantara RT 06 RW 15, Kelurahan Tugu, Cimanggis, Kota Depok, Jawa Barat hanya ada dua unit Closed Circuit Television (CCTV).


Jaksa Sebut Kuasa Hukum Enggan Akui Fakta Irfan Widyanto Ambil DVR CCTV Tanpa Izin

2 hari lalu

Jaksa Sebut Kuasa Hukum Enggan Akui Fakta Irfan Widyanto Ambil DVR CCTV Tanpa Izin

JPU mengatakan kuasa hukum terdakwa Irfan Widyanto enggan mengakui fakta bahwa kliennya mengganti DVR CCTV tanpa izin dan surat perintah yang sah


Tak Ajukan Duplik, Kuasa Hukum Irfan Widyanto Minta Hakim Langsung ke Sidang Putusan

2 hari lalu

Tak Ajukan Duplik, Kuasa Hukum Irfan Widyanto Minta Hakim Langsung ke Sidang Putusan

Kuasa hukum Irfan Widyanto tak akan mengajukan jawaban atas replik atau duplik jaksa. Mereka minta sidang lanjut ke pembacaan vonis.