23 Tahun Tragedi Semanggi II: Nasi Bungkus Terakhir Mahasiswa UI Yap Yun Hap

Mahasiswa yang tergabung dalam Senat Fakultas Hukum UNIKA Atma Jaya aksi tabur bunga pada foto mendiang Yap Yun Hap Mahasiswa Universitas Indonesia yang meninggal ditembak pada Tragedi Semanggi II di Universitas Katolik Indonesia (UNIKA) Atma Jaya, Semanggi, Jakarta, Jumat, 24 September 2021. TEMPO / Hilman Fathurrahman W

TEMPO.CO, Jakarta - Tragedi Semanggi II, menjadi momen Yap Yun Hap, 22 tahun, mahasiswa semester tujuh Jurusan Elektro, Fakultas Teknik Universitas Indonesia atau FTUI angkatan 1996, yang meninggal tepat hari ini, 24 September 1999.

Kala itu, ia mengalami bentrokan dalam aksi demonstrasi menentang Rancangan Undang-Undang (RUU) Penanggulangan Keadaan Bahaya (PKB) yang dibahas pemerintah dan Dewan Perwakilan Rakyat atau DPR.

Diduga ia tertembak peluru aparat yang sedang mengamankan aksi mahasiswa. Dalam laporan Tempo, penembakan itu terjadi sekitar pukul 20.45, yang diperkuat oleh sejumlah saksi mata ketika kejadian itu sedang terjadi.

Diketahui malam itu sekitar 300 mahasiswa sedang berkumpul dengan warga masyarakat di sekitar Universitas Atmajaya, Jakarta, menyusul bentrok antara mahasiswa dan aparat. Saat itu, ia dan beberapa temannya tengah berkumpul untuk bersiap kembali ke Kampus UI, Depok, Jawa Barat.

Tiba-tiba dari arah fly over Casablanca, delapan truk berisi aparat keamanan datang menderu daerah tersebut. Massa pun lalu panik dan berhamburan di jalanan. Beberapa ada yang melarikan diri ke arah Bendunganhilir, Gedung Bank Danamon, Jalan Garnistin, dan Kampus Atma Jaya.

Dari kejauhan terdengar jelas suara tembakan yang sangat deras. Tepat ketika itu, suasana sedang tidak berpihak kepada Yap Yun Hap yang sedang makan nasi bungkus hasil sumbangan masyarakat setempat. Sementara kawan-kawanya lari berhamburan mencari aman, menuju ke dalam kampus Universitas Atma Jaya Jakarta dan Rumah Sakit Jakarta.

Jelang tengah malam, kawan-kawannya berhasil mengamankan diri, tetapi setelah menghitung ulang, hanya ada 12 orang. Artinya ada satu orang yang belum kembali. Yang baru disadari kembali bahwa Yun Hap sudh tidak ada. 

Ketika itu Yun Hap terkena satu tembakan yang menembus punggungnya dari belakang. Hal tersebut membuat kondisinya memburuk dengan patahnya satu tulang iga kiri, menyerempet tulang belikat, tulang leher, kerongkongan, sampai akhirnya menancap di otot kanan sebelah depan.

Kemungkinan kuat, Yun Hap terkena peluru dari truk pertama sampai ke empat dari aparat yang datang ke Jalan Jenderal Sudirman dari arah berlawanan dengan truk pertama tadi.

Siapa Membunuh Yun Hap Belum Terungkap?

Hingga saat ini, belum jelas aparat mana yang menyeret nyawa seorang mahasiswa berumur 22 tahun tersebut.

Ada yang mengatakan bahwa mereka adalah pasukan pemukul Komando Strategis Angkatan Darat atau Kostrad. Namun versi lain menduga bahwa mereka adalah tentara dari Pasukan Pengendali Rusuh Massa atau PPRM-gabungan Angkatan Darat, polisi, marinir, dan Pasukan Khas Angkatan Udara.

Ketika ditanya untuk konfirmasi perihal kejadian ini, polisi maupun TNI pun tidak jelas untuk bisa memberikan kepastian. Untuk menyingkap kasus ini aparat memang tak tinggal diam. Kepolisian Daerah Metro Jaya membentuk Tim Penyidik yang diketuai Wakil Kepala Brigjen Polisi Sutanto.

Dari tim yang dibuat oleh mereka lima subtim inti, di antaranya meliputi subtim olah Tempat Kejadian Perkara atau TKP, subtim lidik, subtim konsultan hulaum, subtim sidik, dan saltim pengumpulan data dan keterangan.

Dalam jumpa pers, Kepala Polda Metro Jaya Mayjen Pol. Nugroho Djajoesman menyebut bahwa saat itu ditemukan ada sebuah minibus Kijang yang melintas di antara konvoi truk aparat tadi. Menurutnya, penembakan itu diduga berasal dari dalam mobil tersebut, namun pernyataan ini justru disanggah aparat kepolisian.

"Masalah Kijang yang lewat, itu fiktif," kata sumber TEMPO, seorang perwira tinggi di Markas Besar Kepolisian RI.

Adapun Tim Pencari Fakta Independen (TPFI) yang diketuian oleh Hermawan “Kiki” Sulistyo, peneliti di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Tim ini mengaku punya sejumlah bukti dan juga beberapa orang saksi. Salah satu buktinya ialah proyektil yang tersimpan di bagian forensik Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM),

Namun usaha tak akan membuahkan hasil semisal tak ada kerja sama dari tim lainnya. Layaknya polisi yang tidak mau bergerak lebih jauh untuk memeriksa barang bukti berupa proyektil tadi.

"Saya belum mau mengambil barang bukti. Kami ingin menerimanya bersama dengan TIFT," kata Kapolda Nugroho Djajoesman, kala itu.

Kiki dan tim pun sudah terlanjur tidak percaya. Ia meragukan tim polisi bisa bekerja independen dan transparan. Bahkan jika bekerja sama pun ia menduga data akan dipelintir oleh aparat. Apalagi kasus ini menyangkut nama tentara sebuah institusi yang masih jadi momok polisi.

Sementara itu, fakta lain menyebutkan dari hasil investigasi menemukan bahwa Yun Hap sudah tewas bahkan sebelum dibawa ke rumah sakit. Tim itu tak menemukan kendaraan lain saat kejadian penembakan berlangsung, kecuali truk milik aparat.

Anehnya ketika diperiksa, tampaknya ia tidak dihabisi dengan senapan biasa. "Peluru itu biasa digunakan oleh anggota TNI atau kepolisian dan termasuk jenis peluru khusus," kata Djaja Saryaatmadja, dokter yang mengautopsi Yun Hap. Artinya, besar kemungkinan pemuda berusia 22 tahun itu dihabisi aparat. Sejumlah saksi mata menguatkan dugaan ini.

Namun kasus ini semakin runyam, bahkan pada 2000, DPR RI berinisiatif membentuk panitia khusus (pansus) kasus Trisakti, Semanggi I, dan Semanggi II (TSS). Setelah kerja setahun, pada 9 Juli 2001 tujuh fraksi dalam panja tersebut menyatakan bahwa tak ada pelanggaran HAM berat dari tiga kasus tersebut.

Kemudian pada April 2002, hasil penyelidikan diserahkan kepada Kejaksaan Agung untuk dilakukan penyidikan, namun ditolak dengan alasan sudah disidangkan melalui pengadilan militer yang hanya menghukum pelaku di lapangan, bukan otak komandonya. Akhirnya, peristiwa TSS menguap begitu saja hingga hari ini.

FATHUR RACHMAN 

Baca: Yun Hap Terkapar, Kasusnya Terbakar

Ikuti berita terkini dari Tempo di Google News, klik di sini.






Kepolisian Spanyol Investigasi Pengirim Teror Bom Surat

5 jam lalu

Kepolisian Spanyol Investigasi Pengirim Teror Bom Surat

Ada enam bom surat yang dikirim dengan sasaran pejabat tinggi dalam beberapa hari terakhir. Bom surat kemungkinan dikirim dari Kota Valladolid.


KontraS Soroti Pasal Pelanggaran HAM Berat di RKUHP

8 jam lalu

KontraS Soroti Pasal Pelanggaran HAM Berat di RKUHP

KontraS menilai pasal pelanggaran HAM berat di RKUHP justru mendegradasi kekhususan tindak pidana kemanusiaan yang berat.


Terbentuknya Paspampres Bermula dari Evakuasi Soekarno dan Bung Hatta ke Yogyakarta

1 hari lalu

Terbentuknya Paspampres Bermula dari Evakuasi Soekarno dan Bung Hatta ke Yogyakarta

Sudah tahukah Anda sejarah dan asal usul terbantuknya Paspampres, pasukan pengamanan presiden dan wapres?


DPR Sepakati Laksamana Yudo Margono Menjadi Panglima TNI

1 hari lalu

DPR Sepakati Laksamana Yudo Margono Menjadi Panglima TNI

Laksamana Yudo Margono menjalani rangkaian uji kelayakan dan kepatutan calon Panglima TNI.


Anggota DPR Desak Pecat Tidak Hormat Perwira Paspampres yang Diduga Perkosa Prajurit Kostrad

1 hari lalu

Anggota DPR Desak Pecat Tidak Hormat Perwira Paspampres yang Diduga Perkosa Prajurit Kostrad

Menurut anggota DPR Bobby Adhityo Rizaldi jika anggota Paspampres ditemukan bersalah, maka mesti dipecat dengan tidak hormat.


Ketahui 2 Fungsi Paspampres, Bukan Sekadar Pengamanan Presiden dan Wapres

1 hari lalu

Ketahui 2 Fungsi Paspampres, Bukan Sekadar Pengamanan Presiden dan Wapres

Paspampres merupakan pasukan khusus yang bertugas untuk pengamanan Presiden dan wapres. Lalu, apa fungsi dari Paspampres?


Rektor: UI Siap Jalankan Program Griya Moderasi Beragama dan Bela Negara

1 hari lalu

Rektor: UI Siap Jalankan Program Griya Moderasi Beragama dan Bela Negara

Rektor Universitas Indonesia (UI) Ari Kuncoro menyatakan kesiapannya dalam menjalankan program yang diluncurkan pemerintah itu.


Sejumlah Pejabat Utama TNI Dampingi Yudo Margono Tes Panglima TNI di DPR

2 hari lalu

Sejumlah Pejabat Utama TNI Dampingi Yudo Margono Tes Panglima TNI di DPR

Dengan banyaknya dukungan dari koleganya, Yudo Margono mengaku tak tegang mengikuti uji kepatutan dan kelayakan hari ini.


Perwira Paspampres yang Diduga Perkosa Prajurit Kostrad Ditahan

2 hari lalu

Perwira Paspampres yang Diduga Perkosa Prajurit Kostrad Ditahan

Penyidikan dilakukan di Makassar karena korban pemerkosaan anggota Paspampres itu merupakan prajurit yang bertugas di Divisi Infanteri 3/Kostrad.


Yudo Margono Gelar Rapat-rapat Kecil Jelang Fit and Proper Test Calon Panglima TNI

2 hari lalu

Yudo Margono Gelar Rapat-rapat Kecil Jelang Fit and Proper Test Calon Panglima TNI

Yudo Margono siang ini akan melaksanakan fit and proper test sebagai calon Panglima TNI pengganti Jenderal Andika Perkasa.