Dinkes Lumajang Sebut Ada 57 Korban Luka Bakar Erupsi Gunung Semeru

Reporter:
Editor:

Amirullah

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Bagikan Berita
    Petugas mengevakuasi warga terdampak erupsi Gunung Semeru di Sumberwuluh, Lumajang, Jawa Timur, Sabtu 4 Desember 2021. ANTARA FOTO/HO/Muhammad Sidkin Ali/Radar Semeru

    Petugas mengevakuasi warga terdampak erupsi Gunung Semeru di Sumberwuluh, Lumajang, Jawa Timur, Sabtu 4 Desember 2021. ANTARA FOTO/HO/Muhammad Sidkin Ali/Radar Semeru

    TEMPO.CO, Jakarta - Kepala Dinas Kesehatan Lumajang Bayu Wibowo mengatakan hingga Ahad pagi ini, 5 Desember 2021, sebanyak 57 orang mengalami luka-luka akibat bencana awan panas guguran Gunung Semeru. Puluhan orang korban ini mendapat penanganan medis di sejumlah fasuilitas kesehatan.

    Bayu mengatakan sebanyak 9 orang korban diantaranya mengalami luka bakar berat lebih dari 20 persen. "Sembilan orang ini dirawat di Rumah Sakit dr Haryoto, enam orang diantaranya perlu operasi dan dirawat di ICU," kata Bayu di Lumajang, Ahad, 5 Desember 2021.

    Selain itu, kata Bayu, sebanyak 16 orang dirawat di RSUD Pasirian. "Satu orang siap operasi hari ini, " ujar dia. Ada juga tiga korban yang dirawat di RS Bhayangkara. "Keseluruhan korban bencana ini mengalami luka bakar sedang hingga berat," katanya.

    Kemudian sebanyak 8 orang korban luka bakar ringan dirawat di Puskesmas Penanggal. Dan 20 orang luka ringan hanya menjalani rawat jalan.

    Seperti diberitakan sebelumnya, aktivitas vulkanik Gunungapi Semeru berupa awan panas guguran pada Sabtu sore kemarin, 4 Desember 2021 telah menimbulkan bencana bagi warga di Dusun Curahkoboan, Desa Supiturang, Kecamatan Candipuro. Hampir seluruh rumah di dusun tersebut hancur tersapu awan panas guguran ini.

    Bencana tersebut telah menimbulkan kerugian materi dan jiwa. Sejumlah orang mengalami luka-luka dan ratusan warga mengungsi.

    DAVID PRIYASIDHARTA


     

     

    Lihat Juga


    Newsletter


    Selengkapnya
    Grafis

    Apa itu Satelit Orbit 123 derajat BT dan Kronologi Kekisruhannya?

    Kejaksaan Agung menilai pengelolaan slot satelit orbit 123 derajat BT dilakukan dengan buruk. Sejumlah pejabat di Kemenhan diduga terlibat.