Dokter Sebut Panglima TNI Tak Pakai Vaksin Booster, tapi Sel Punca

Reporter:
Editor:

Aditya Budiman

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto menggelar jumpa pers terkait perkembangan hilangnya kapal selam KRI Nanggala-402 di Lanud I Gusti Ngurah Rai, Kuta, Bali, Kamis, 22 April 2021. Kapal selam buatan tahun 1981 tersebut hilang kontak di perairan utara Bali pada Rabu pagi, 21 April kemarin. Johannes P. Christo

    Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto menggelar jumpa pers terkait perkembangan hilangnya kapal selam KRI Nanggala-402 di Lanud I Gusti Ngurah Rai, Kuta, Bali, Kamis, 22 April 2021. Kapal selam buatan tahun 1981 tersebut hilang kontak di perairan utara Bali pada Rabu pagi, 21 April kemarin. Johannes P. Christo

    TEMPO.CO, Jakarta - Dokter pribadi Panglima TNI, Kolonel Kesehatan Mukti Arja Berlian, mengklarifikasi soal jenis booster yang diterima oleh Marsekal Hadi Tjahjanto. Menurut Mukti, Panglima Hadi tidak menerima vaksin dosis ketiga sebagai booster atau biasa disebut vaksin booster.

    Ia menyatakan Panglima TNI memakai scretome booster yang berasal dari stem cell atau sel punca tali pusat manusia. "Yang dimaksud Scretome booster ini adalah Mesenchymal Scretome Stem Cell (MSC) dari Stem Cell Tali Pusat Manusia sebagai Booster Vaksinasi Sinovac," ujar Berlian lewat keterangan tertulis, Kamis, 26 Agustus 2021.

    Menurut Kepala RSAU dr Esnawan Antariksa itu, orang yang telah dua kali mendapat vaksin Sinovac dan diberi booster suntikan Scretome Mesenchymal Stem cell akan lebih baik dan menjaga atau memperkuat vaksin Sinovac di dalam tubuh. Sehingga tubuh tidak mudah terpapar Covid-19.

    "Booster akan mendorong Sel T Regulator untuk mengaktivasi lebih banyak sel limfosit B memori. Sel B memori inilah yang nanti berubah menjadi sel plasma yang akan memproduksi lebih banyak IgG / Antibodi spesifik untuk melawan Antigen spesifik Covid-19," kata Berlian.

    Kemudian, IL-10 dan TGFB akan mendorong T Regulator untuk memproduksi lebih banyak IL-10 dan interferon yang akan membangkitkan dendritik sel tipe plasmatoid. Di mana fungsi plasmatoid yaitu untuk melawan antigen Covid-19.

    Sementara bagi pasien Covid-19, Berlian menyebut, sel punca ini dapat menghentikan badai sitokin, mencegah fibrosis paru, memperbaiki disfungsi paru, memperbaiki lingkungan mikro paru, melindungi sel epithel alveolar paru, dan meningkatkan fungsi paru.

    Sebelumnya, pengakuan sejumlah pejabat menerima vaksin booster terungkap saat mereka mengobrol dengan Presiden Jokowi ketika meninjau pelaksanaan vaksinasi Covid-19 di SMPN 22 Kota Samarinda, Kalimantan Timur. Acara disiarkan secara langsung di kanal YouTube Sekretariat Presiden.

    Dalam video itu, Panglima TNI Hadi salah satu yang mengaku sudah mendapat booster, belakangan diklarifikasi bahwa yang digunakannya adalah scretome booster, bukan vaksin Covid-19. Sebab, vaksin dosis ketiga saat ini hanya diperuntukkan untuk tenaga kesehatan. Tayangan video live streaming itu kini sudah dihapus dan diunggah ulang setelah disunting dengan menghilangkan percakapan soal vaksin booster.

    Baca juga: Kronologi Bocor Pengakuan Pejabat Dapat Vaksin Booster

    DEWI NURITA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    PTM Lahirkan Klaster Covid-19 di Sekolah, 3 Provinsi Catat Lebih dari 100 Gugus

    Kebijakan PTM mulai diterapkan sejak akhir Agustus lalu. Namun, hanya anak 12 tahun ke atas yang boleh divaksin. Padahal, PTM digelar mulai dari PAUD.