Menkes Ungkap Peringkat Vaksinasi Indonesia di Dunia, Anggota DPR Mengkritik

Reporter:
Editor:

Amirullah

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Petugas medis menyuntikkan dosis vaksin Covid-19 kepada Warga Negara Asing (Ekspatriat) di Balai Kota, Jakarta, Selasa, 24 Agustus 2021. Sebanyak 300 WNA pemegang kitas mendapatkan vaksin sinophram dengan biaya Rp 700.000 per orang untuk 2 kali suntik. Adapun syarat yang dibutuhkan yaitu sebagai berikut: WNA berusia minimal 18 tahun, Memiliki salah satu kartu identitas berupa paspor, KITAS, dan KITAP, atau SKKT. TEMPO / Hilman Fathurrahman W

    Petugas medis menyuntikkan dosis vaksin Covid-19 kepada Warga Negara Asing (Ekspatriat) di Balai Kota, Jakarta, Selasa, 24 Agustus 2021. Sebanyak 300 WNA pemegang kitas mendapatkan vaksin sinophram dengan biaya Rp 700.000 per orang untuk 2 kali suntik. Adapun syarat yang dibutuhkan yaitu sebagai berikut: WNA berusia minimal 18 tahun, Memiliki salah satu kartu identitas berupa paspor, KITAS, dan KITAP, atau SKKT. TEMPO / Hilman Fathurrahman W

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengakui capaian vaksinasi Covid-19 di Indonesia belum sempurna. Kendati begitu, Budi menyampaikan informasi ihwal peringkat vaksinasi Indonesia dibandingkan sejumlah negara lain di dunia.

    "Memang belum sempurna yang dijalankan di Indonesia, tetapi sebagai informasi, per kemarin Indonesia menduduki peringkat keenam dunia dalam hal jumlah rakyat di negara tersebut yang sudah berhasil mendapatkan akses vaksinasi," kata Budi dalam Rapat Kerja dengan Komisi IX Dewan Perwakilan Rakyat, Rabu, 25 Agustus 2021.

    Budi Gunadi mengatakan capaian vaksinasi di Indonesia per hari ini mencapai hampir 59 juta. Adapun negara yang menduduki lima peringkat di atas Indonesia ialah Cina di posisi pertama, disusul India, Amerika Serikat, Brazil, dan Jepang.

    Dari jumlah suntikan yang diberikan, Budi melanjutkan, Indonesia berada di peringkat ketujuh dunia. Cina masih menempati peringkat pertama untuk kategori ini, disusul India, Amerika Serikat, Brazil, Jepang, dan Jerman.

    "Per tadi pagi saya lihat angka suntikan kita sudah melampaui 92 juta dosis," ujarnya.

    Budi mengatakan vaksinasi di Indonesia dimulai tanggal 13 Januari 2021. Ia berujar, Indonesia menembus angka 57 juta pertama pada 8 Juli lalu atau sekitar 26 pekan. Menurut Budi, saat ini pemerintah sedang berusaha keras untuk bisa menembus angka 57 juta kedua menjadi 100 juta di akhir Agustus.

    Budi pun memperkirakan Indonesia bisa mencapai sekitar 300 juta vaksinasi pada akhir tahun ini. Ia menargetkan angka vaksinasi mencapai 400 juta pada Januari ada Februari 2022, setelah ditambah target anak-anak berusia 12-17 tahun.

    Paparan Budi ini dipertanyakan sejumlah anggota Komisi Kesehatan, salah satunya Dewi Asmara. Dewi mengatakan penjelasan ini dikhawatirkan misleading karena hanya melihat peringkat jumlah orang yang divaksinasi, bukan persentase vaksinasi untuk mencapai kekebalan komunitas atau herd immunity.

    "Jadi tolong ini perlu kita berhati-hati, karena kalau kita lihat data dari John Hopkins University, Indonesia peringkatnya masih di 102," kata Dewi Asmara.

    Politikus Golkar ini mengaku menyambut baik segala upaya penanganan pandemi. Namun, ia meminta agar tak menganggap bahwa Indonesia sudah hebat dalam penanganan pandemi.

    "Kita jangan mengatakan bahwa kita ini seakan-akan sudah sedemikian hebatnya mengenai peringkat Indonesia mengenai progres vaksinasi ini karena takutnya bisa misleading," ujarnya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    PTM Lahirkan Klaster Covid-19 di Sekolah, 3 Provinsi Catat Lebih dari 100 Gugus

    Kebijakan PTM mulai diterapkan sejak akhir Agustus lalu. Namun, hanya anak 12 tahun ke atas yang boleh divaksin. Padahal, PTM digelar mulai dari PAUD.