Hari Bhayangkara: Mengenang Polisi Jujur Hoegeng Iman Santoso

Reporter:
Editor:

Ahmad Faiz Ibnu Sani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Anggota kepolisian saat mengikuti apel pengawalan dan pelepasan tim vaksinator di Polda Metro Jaya, Jakarta, Kamis, 11 Februari 2021. Kapolri  juga meminta jajarannya turut serta membantu pemerintah dalam menyukseskan program vaksinasi. TEMPO/Muhammad Hidayat

    Anggota kepolisian saat mengikuti apel pengawalan dan pelepasan tim vaksinator di Polda Metro Jaya, Jakarta, Kamis, 11 Februari 2021. Kapolri juga meminta jajarannya turut serta membantu pemerintah dalam menyukseskan program vaksinasi. TEMPO/Muhammad Hidayat

    TEMPO.CO, Jakarta - Kepolisian Republik Indonesia (Polri) merayakan hari jadinya yang ke-75 kemarin. Salah satu polisi yang kerap disinggung dan dijadikan teladan adalah mantan Kapolri, Hoegeng Iman Santoso.

    Laki-laki kelahiran Pekalongan, 14 Oktober 1921 lalu itu punya banyak kisah bijak selama menjadi polisi. Ia kerap turun ke lapangan dan terlibat langsung dalam melayani masyarakat.

    Salah satu kebijakan Hoegeng yang hingga saat ini masih dapat dirasakan adalah mewajibkan pengendara motor memakai helm. Mengutip dari goodnewsfromindonesia.id, Kamis, 1 Juli 2021, Hoegeng ingin melindungi nyawa para pengendara lewat kebijakan ini. ''Bukan apa-apa. Aspal lebih keras dari kepala,'' katanya dalam satu kesempatan.

    Selain itu, Hoegeng dikenal sebagai sosok yang berintegritas. Ia diceritakan tidak suka menjilat hanya untuk keuntungan dan kenyaman pribadinya. Ia tak segan menolak tinggal di rumah dinas yang disediakan pemerintah. Hoegeng justru memilih tetap tinggal di rumah kontrakannya yang berada di Menteng, Jakarta Pusat.

    Hoegeng dan Mobil Bekas Hasil Sumbangan Anak Buah

    Dari banyak prestasi yang dilakukan Hoegeng, yang paling diingat adalah penumpasan kasus penggelapan mobil mewah yang dilakukan oleh Robby Cahyadi pada 1969. Setahun  kemudian ia mengungkap kasus pemerkosaan yang melibatkan anak  penjabat Yogyakarta sebagai pelakunya. Namun kasus-kasus tersebut berakhir dengan dipesiunkannya Hoegeng pada 2 Oktober 1971. Pemerintah berdalih butuh peremajaan.

    Selepas pensiun, Hoegeng enggan ditawari menjadi duta besar Indonesia di Belgia.

    Setelah tidak lagi menjadi polisi, Hoegeng berkecimpung di seni musik dan lukis. Ia sempat malang melintang di TVRI bersama rekannya dan membuat band bernama The Hawaiian Seniors hingga mendapat julukan The Singing General atau Jenderal yang Bernyanyi.

    Kiprah Hoegeng di televisi pun tak lama. Ia dilarang tampil karena ikut menandatangani petisi 50, sebagai kritik pada Soeharto diangggap keliru menafsirkan Pancasila.

    Hoegeng menghabiskan sisa hidupnya dengan melukis. Ia menunggal dunia pada 14 Juli 2004 dan dimakamkan di Taman Pemakaman Umum Parung, Bogor, Jawa Barat pada 14 Juli 2004.

    TIKA AYU

    Baca juga: Legenda Polisi Hoegeng Iman Santoso Diusulkan Jadi Pahlawan


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    PTM Lahirkan Klaster Covid-19 di Sekolah, 3 Provinsi Catat Lebih dari 100 Gugus

    Kebijakan PTM mulai diterapkan sejak akhir Agustus lalu. Namun, hanya anak 12 tahun ke atas yang boleh divaksin. Padahal, PTM digelar mulai dari PAUD.