Kejagung Periksa Pejabat Bea dan Cukai Soetta Soal Penyelundupan Emas Batangan

Reporter:
Editor:

Eko Ari Wibowo

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi Emas Batangan. TEMPO/Tony Hartawan

    Ilustrasi Emas Batangan. TEMPO/Tony Hartawan

    TEMPO.CO, Jakarta - Kejaksaan Agung telah memeriksa sejumlah pejabat Bea dan Cukai Bandara Soekarno Hatta dalam kasus dugaan penyelundupan emas batangan.

    Direktur Penyidikan pada Jaksa Agung Muda Pidana Khusus Febrie Adriansyah mengatakan, kasus tersebut kini masih di tahap penyelidikan.

    "Sudah mulai memanggil beberapa pejabat Bea dan Cukai di Soetta," ujar Febrie saat dikonfirmasi Tempo pada Kamis, 1 Juli 2021.

    Namun, Febrie tak membeberkan siapa saja pejabat yang telah diperiksa. Pun posisi dugaan pidana serta dugaan kerugian negara.

    "Masih penyelidikan, nanti dulu," kata Febrie.

    Adanya kasus dugaan korupsi impor emas pertama kali dibeberkan dalam rapat kerja bersama Komisi Hukum Dewan Perwakilan Rakyat (DPR).

    Anggota Komisi Hukum dari Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, Arteria Dahlan, mendesak Kejaksaan Agung untuk mengusut kasus dugaan penyelundupan impor emas batangan dari Singapura ke Indonesia yang terjadi di Bea Cukai Bandara Soekarno-Hatta. "Ini ada maling terang-terangan," ujar dia.

    Penyelundupan impor emas batang ini, kata Arteria, bermula dari memanipulasi informasi yang tidak benar sehingga logam mulia tersebut tak dikenai biaya impor sebesar 5 persen dan pajak penghasilan impor senilai 2,5 persen. Menurut Arteria, karena adanya manipulasi tersebut negara berpotensi kehilangan pendapatan sebesar Rp 2,9 triliun. Angka itu merupakan pajak dari total nilai emas sebesar Rp 47,1 triliun.

    Karena itu, Arteria pun meminta Jaksa Agung Sianitar Burhanuddin untuk mengusut semua perusahaan yang diduga terlibat dalam penyelundupan emas batangan ini.

    Jaksa Agung Sianitar Burhanuddin mengatakan akan menindaklanjuti dugaan penyelundupan impor emas batangan tersebut.

    "Syukur-syukur kalau kami punya data yang lengkap 8 perusahaan itu," kata Burhanuddin.

    ANDITA RAHMA | HUSEIN ABRI

    Baca: Soal Penyelundupan Emas Batangan, Arteria Dahlan: Ini Ada Maling Terang-terangan


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Selamat Jalan KPK

    Berbagai upaya melemahkan posisi KPK dinilai tengah dilakukan. Salah satunya, kepemimpinan Firli Bahuri yang dinilai membuat kinerja KPK jadi turun.