34 Napi Terorisme yang Ikrar Setia ke NKRI dari Simpatisan JAD, ISIS Hingga JI

Reporter:
Editor:

Kukuh S. Wibowo

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Narapidana tindak pidana teorisme mengucap ikrar setia kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) di Aula Sahardjo, Lapas Narkotika Kelas IIA Gunung Sindur, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Kamis 15 April 2021. Sebanyak 34 narapidana tindak pidana terorisme mengikuti ikrar setia kepada NKRI sebagai bentuk implementasi hasil akhir program deradikalisasi serta pengikat tekad dan semangat untuk menegaskan bersedia kembali membangun kehidupan berbangsa dan bernegara dalam bingkai NKRI. ANTARA FOTO/Humas Kemenkumham

    Narapidana tindak pidana teorisme mengucap ikrar setia kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) di Aula Sahardjo, Lapas Narkotika Kelas IIA Gunung Sindur, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Kamis 15 April 2021. Sebanyak 34 narapidana tindak pidana terorisme mengikuti ikrar setia kepada NKRI sebagai bentuk implementasi hasil akhir program deradikalisasi serta pengikat tekad dan semangat untuk menegaskan bersedia kembali membangun kehidupan berbangsa dan bernegara dalam bingkai NKRI. ANTARA FOTO/Humas Kemenkumham

    TEMPO.CO, Jakarta - Kepala Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Jawa Barat Sudjonggo menyebutkan bahwa 34 narapidana atau napi terorisme yang mengucapkan ikrar setia pada Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) terdiri dari beberapa jaringan.

    "Ini dapat 34 sudah syukur alhamdulillah. Ini termasuk berhasil, berkat kerja sama dengan Densus 88, BNPT, pembina agama, dan BIN," ujar Sudjonggo, di Lapas Narkotika Kelas IIA Gunung Sindur, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Kamis, 15 April 2021.

    Narapidana teroris yang berikrar setia pada NKRI, kata dia, didominasi dari jaringan Jamaah Ansharut Daulah (JAD) sebanyak 24 orang. Adapun sisanya yaitu simpatisan Islamic State of Iraq and Suriah (ISIS), Azam Dakwah Centre (ADC), dan Jamaah Islamiyah (JI).

    Menurut Sujonggo, dari total 56 narapidana, masih ada 22 narapidana terorisme lainnya di lapas tersebut belum mengucapkan ikrar setia pada NKRI karena masih dalam tahap proses deradikalisasi.

    "Pembinaan terus berjalan karena pidananya juga berbeda-beda. Itu yang menyebabkan kenapa tidak semuanya, karena memang pidananya berbeda beda. Secara usia berbeda beda, daya nalar berbeda-beda," kata Sudjonggo.

    Kemenkumham terus melakukan pembinaan terhadap napi terorisme dengan menggandeng Densus 88 Antiteror, Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Badan Intelijen Negara (BIN), dan pemuka agama.

    "Ini terus, kami tidak berhenti, seluruh Jawa Barat ini ada 106 (napi terorisme) pada saat ini bisa bertambah bisa berkurang di kemudian hari, karena mutasi dari tempat lain atau kita mutasikan ke tempat lain," kata Sujonggo.

    Baca Juga: Eks Napi Terorisme Ungkap Perubahan Tren Pelaku Teror


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Lakon DPR, Jokowi, dan MK dalam Riwayat Akhir Kisah KPK

    Pada 4 Mei 2021, Mahkamah Konstitusi menolak uji formil UU KPK. Dewan Perwakilan Rakyat dan Presiden Jokowi juga punya andil dalam pelemahan komisi.