Polri Tetapkan Ambroncius Nababan Tersangka Kasus Rasisme

Reporter:
Editor:

Aditya Budiman

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kadivhumas Polri Irjen Pol Argo Yuwono memberikan keterangan tentang teroris Jamaah Islamiyah (JI) di kantor Bareskrim, Mabes Polri, Jakarta, Senin, 28 Desember 2020. Densus 88 Antiteror Polri menemukan 12 lokasi di Jawa Tengah, yang diduga kuat dijadikan lokasi pelatihan kelompok JI untuk pelatihan bela diri dan merakit bom. TEMPO/Muhammad Hidayat

    Kadivhumas Polri Irjen Pol Argo Yuwono memberikan keterangan tentang teroris Jamaah Islamiyah (JI) di kantor Bareskrim, Mabes Polri, Jakarta, Senin, 28 Desember 2020. Densus 88 Antiteror Polri menemukan 12 lokasi di Jawa Tengah, yang diduga kuat dijadikan lokasi pelatihan kelompok JI untuk pelatihan bela diri dan merakit bom. TEMPO/Muhammad Hidayat

    TEMPO.CO, Jakarta - Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Polri menetapkan Ambroncius Nababan sebagai tersangka dalam kasus dugaan rasisme terhadap Natalius Pigai. 

    "Ya betul," ujar Direktur Tindak Pidana Siber Brigadir Jenderal Slamet Uliandi saat dihubungi pada Selasa, 26 Januari 2021. 

    Penetapan status tersangka terhadap Ambroncius dilakukan usai penyidik melakukan pemeriksaan pada 25 Januari 2021.

    Kasus ini berawal ketika Ambroncius Nababan mengunggah gambar yang menyandingkan foto Natalius Pigai dengan gorila, termasuk menulis narasi seperti yang tertulis dalam tangkapan layar yang beredar. Namun dia mengklaim tak bermaksud melakukan rasisme lewat unggahan itu.

    "Sekarang sudah mulai berkembang saya melakukan perbuatan rasis, sebenarnya enggak ada. Saya bukan rasis," kata dia.

    Menurut Ambroncius, ia tak mungkin bersikap rasis terhadap orang Papua. Alasannya, ia pernah maju sebagai calon anggota Dewan Perwakilan Rakyat dari daerah pemilihan Papua pada Pemilu 2019.

    Ambroncius Nababan juga mengklaim gambar yang diunggah yang diduga bermuatan rasisme terhadap Natalius Pigai didapat dari orang lain. Dia mempertanyakan mengapa orang lain yang mengunggah gambar serupa sebelumnya tak dipersoalkan. "Tapi kenapa saya yang copas (copy paste) orang punya saya dibilang rasis," ucapnya.

    Baca juga: Ambroncius Nababan Akui Sempat Dimarahi Hanura soal Natalius Pigai

    ANDITA RAHMA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    PTM Lahirkan Klaster Covid-19 di Sekolah, 3 Provinsi Catat Lebih dari 100 Gugus

    Kebijakan PTM mulai diterapkan sejak akhir Agustus lalu. Namun, hanya anak 12 tahun ke atas yang boleh divaksin. Padahal, PTM digelar mulai dari PAUD.