LIPI Sebut Kepemimpinan Partai Jadi Sumber Masalah Kemunduran Demokrasi

Reporter:
Editor:

Aditya Budiman

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Warga memasukkan surat suara di Tempat Pemungutan Suara (TPS) 8 Kalitengah Lor di Barak Pengungsian Glagaharjo, Cangkringan, Sleman, DI Yogyakarta, Rabu 9 Desember 2020. Warga Dusun Kalitengah Lor yang berada di Kawasan Rawan Bencana (KRB) Gunung Merapi melakukan pemungutan suara Pilkada Bupati dan Wakil Bupati Sleman 2020 di barak pengungsian Desa Glagaharjo. ANTARA FOTO/Hendra Nurdiyansyah

    Warga memasukkan surat suara di Tempat Pemungutan Suara (TPS) 8 Kalitengah Lor di Barak Pengungsian Glagaharjo, Cangkringan, Sleman, DI Yogyakarta, Rabu 9 Desember 2020. Warga Dusun Kalitengah Lor yang berada di Kawasan Rawan Bencana (KRB) Gunung Merapi melakukan pemungutan suara Pilkada Bupati dan Wakil Bupati Sleman 2020 di barak pengungsian Desa Glagaharjo. ANTARA FOTO/Hendra Nurdiyansyah

    TEMPO.CO, Jakarta - Kepala Pusat Penelitian Politik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Firman Noor mengatakan kepemimpinan partai menjadi salah satu penyebab kemunduran demokrasi.

    "Kepemimpinan partai itu penting karena ini salah satu sumber segala sumber masalah di partai politik, yaitu sangat bergantung pada kepemimpinan," kata Firman dalam diskusi publik LP3ES, Selasa, 26 Januari 2021.

    Firman mengatakan kepemimpinan partai politik saat ini cenderung antidemokrasi karena demokrasi di internal tidak berjalan. Ia menyebut hampir semua partai di Indonesia memiliki tokoh yang diagungkan, kadang antikritik, dan cenderung sentralisasi. "Termasuk urusan penentuan kepala daerah harus betul-betul dapat lampu hijau dari pusat," katanya.

    Menurut Firman, beberapa partai politik juga tidak memberikan peluang bagi kadernya untuk berpartisipasi. Selain itu dalam anggaran dasar dan anggaran rumah tangga (AD ART) partai, cenderung mendukung terjadi elitisme, bahkan personifikasi partai.

    ADVERTISEMENT

    Kemudian, kata Firman, ada budaya ewuh pakewuh yang disebabkan adanya ketergantungan kader, baik karena faktor historis pemimpinnya atau kekuatan finansial tak tertandingi. "Dan akhirnya orang itu bergantung pada elite," ujarnya.

    Firman menuturkan situasi tersebut membuat pengaturan partai politik menjadi tidak transparan. Sehingga peluang terjadi pelanggaran dan kesepakatan di belakang layar membudaya.

    Hal ini, kata Firman, diperkeruh dengan loyalitas kader atas dasar patron relation, bukan atas dasar ideologi. Akibat absennya ideologi, pendekatan pragmatis dan oportunis pun menjadi marak.

    "Partai akhirnya menjadi kepentingan individu, bukan kepentingan ideologi apalagi partai. Kemudian ada fenomena kegagalan kaderisasi dan tidak berjalannya merit system," kata Firman.

    Baca juga: RUU Pemilu: Komisi II DPR Jelaskan Klausul Larangan Eks HTI Ikut Pemilihan

    FRISKI RIANA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Perjalanan Ganda Putri Indonesia Masuk Semifinal Olimpiade Pertama dalam Sejarah

    Pasangan ganda putri Greysia Polii dan Apriyani Rahayu, lolos ke semifinal badminton di Olimpiade 2020. Prestasi itu jadi tonggak olahraga Indonesia.