Buronan 18 Tahun Kasus Bom Bali Ini Pernah Jadi Pelatih di Akmil Afghanistan

Reporter:
Editor:

Amirullah

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kerabat korban berpelukan saat mengenang 17 tahun tragedi Bom Bali di Monumen Ground Zero, Kuta, Bali, Sabtu, 12 Oktober 2019. Foto: Johannes P. Christo

    Kerabat korban berpelukan saat mengenang 17 tahun tragedi Bom Bali di Monumen Ground Zero, Kuta, Bali, Sabtu, 12 Oktober 2019. Foto: Johannes P. Christo

    TEMPO.CO, Jakarta - Kepala Bagian Penerangan Umum Divisi Humas Polri Kombes Ahmad Ramadhan mengungkapkan profil buron Bom Bali I, Zulkarnaen, yang belum lama ini ditangkap Tim Detasemen Khusus 88.

    "Penangkapan saudara Zulkarnaen yang berperan menyembunyikan Upik Lawanga, kami sampaikan profil tersangka teroris Zulkarnaen. Ini sumbernya dari Densus 88," kata Ahmad dalam konferensi pers, Senin, 14 Desember 2020.

    Zulkarnaen merupakan pimpinan askari Jamaah Islamiyah (JI). Ia pernah menjadi pelatih akademi militer di Afghanistan selama 7 tahun. Zulkarnaen juga merupakan arsitek kerusuhan di Ambon, Ternate, dan Poso pada 1998-2000.

    Ahmad mengatakan, Zulkarnaen adalah otak dari peledakan kediaman Duta Besar Filipinan di Menteng pada 1 Agustus 2000. "Yang bersangkutan adalah otak peledakan gereja serentak pada malam Natal 2000 dan tahun baru 2001," katanya.

    Zulkarnaen juga terlibat dalam kasus Bom Bali I pada 2002, bom Marriot pertama pada 2003, bom di Kedutaan Besar Australia pada 2004, dan kasus Bom Bali II pada 2005. "Saat ini sudah menjadi DPO selama 18 tahun," ujar Ahmad.

    Beberapa hari lalu, Tim Densus 88 menangkap Zulkarnaen (57) di Lampung. Densus menangkap pria yang memiliki nama lain Aris Sumarsono alias Daud alias Zaenal Arifin alias Abdulrahman di Gang Kolibri, Toto Harjo, Purbolinggo, Kabupaten Lampung Timur, Lampung.

    Adapun Upik LAwanga telah lebih dulu ditangkap Densus 88 di Kabupaten Lampung Tengah, Lampung pada 23 November 2020. Upik merupakan terduga teroris kelompok Jamaah Islamiyah (JI) yang selama ini masuk ke dalam Daftar Pencarian Orang (DPO).


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    PTM Lahirkan Klaster Covid-19 di Sekolah, 3 Provinsi Catat Lebih dari 100 Gugus

    Kebijakan PTM mulai diterapkan sejak akhir Agustus lalu. Namun, hanya anak 12 tahun ke atas yang boleh divaksin. Padahal, PTM digelar mulai dari PAUD.