3 Kali Survei Indikator Soal Capres 2024: Ganjar Pranowo Selalu Ungguli Prabowo

Reporter:
Editor:

Eko Ari Wibowo

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo dalam Vidcon Rakor Penanganan COVID-19.

    Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo dalam Vidcon Rakor Penanganan COVID-19.

    TEMPO.CO, Jakarta - Lembaga survei Indikator Politik Indonesia merilis hasil sigi nasional terkait pilihan calon presiden 2024 dengan simulasi tertutup 15 nama. Hasilnya, Ganjar Pranowo berada di puncak disusul Prabowo Subianto, dan Anies Baswedan.

    Ganjar Prabowo memiliki elektabilitas sebesar 18,7 persen, kemudian Prabowo Subianto 16,8 persen, Anies Baswedan 14,4 persen, Sandiaga Salahuddin Uno 8,8 persen, dan Ridwan Kamil 7,6 persen. Sisanya, elektabilitas nama-nama lain seperti Agus Harimurti Yudhoyono, Khofifah Indar Parawansa, Gatot Nurmantyo dan sebagainya masih di bawah angka 5 persen.

    Direktur Eksekutif Indikator Politik Indonesia, Burhanuddin Muhtadi, mengatakan Ganjar Pranowo selalu menduduki tingkat pertama di tiga survei terakhir. "Bulan September ini kami melakukan lagi survei, Pak Ganjar berada di tingkat pertama di tiga survei terakhir. Kemudian disusul Pak Prabowo dan Anies Bawedan di tingkat ketiga ini juga stagnan posisinya," kata Burhanuddin dalam konferensi pers virtual, Ahad, 25 Oktober 2020.

    Survei tersebut dilakukan pada 24 September hingga 30 September 2020 dengan menggunakan panggilan telepon karena pandemi Covid-19.

    Metode yang digunakan adalah simple random sampling dengan 1.200 responden yang dipilih secara acak berdasarkan data survei tatap muka langsung sebelumnya pada rentang Maret 2018 hingga Maret 2020.

    Adapun margin of error sekitar 12,9 persen dengan tingkat kepercayaan 95 persen. Sampel berasal dari seluruh provinsi di Indonesia yang terdistribusi secara proporsional.

    DEWI NURITA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    QAnon dan Proud Boys, Kelompok Ekstremis Sayap Kanan Pendukung Donald Trump

    QAnon dan Proud Boys disebut melakukan berbagai tindakan kontroversial saat memberi dukungan kepada Donald Trump, seperti kekerasan dan misinformasi.