Satgas Covid-19: WHO Mengingatkan Vaksin Jangan Hanya untuk Satu Negara

Reporter:
Editor:

Kukuh S. Wibowo

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Petugas kesehatan menyuntikkan vaksin measles rubella kepada siswa kelas I dalam Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS) di SD Negeri 8 Sumerta, Denpasar, Bali, Jumat 14 Agustus 2020. Vaksinasi measles rubella dan kanker serviks tersebut menyasar siswa kelas I dan kelas VI di setiap sekolah dasar se-Denpasar yang dilakukan secara bertahap dengan menerapkan protokol kesehatan COVID-19 termasuk mengatur jumlah siswa yang hadir ke sekolah. ANTARA FOTO/Nyoman Hendra Wibowo

    Petugas kesehatan menyuntikkan vaksin measles rubella kepada siswa kelas I dalam Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS) di SD Negeri 8 Sumerta, Denpasar, Bali, Jumat 14 Agustus 2020. Vaksinasi measles rubella dan kanker serviks tersebut menyasar siswa kelas I dan kelas VI di setiap sekolah dasar se-Denpasar yang dilakukan secara bertahap dengan menerapkan protokol kesehatan COVID-19 termasuk mengatur jumlah siswa yang hadir ke sekolah. ANTARA FOTO/Nyoman Hendra Wibowo

    TEMPO.CO, Jakarta - Juru bicara sekaligus Ketua Dewan Pakar Satuan Tugas Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmito mengatakan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah memberi pernyataan bahwa vaksin Covid-19 adalah barang untuk umum (public goods). Karena itu, jika ditemukan nanti, vaksin ini tak boleh hanya digunakan untuk satu negara saja.

    "WHO telah tekankan pentingnya berbagai vaksin atau sharing tools untuk mencapai kesembuhan global secara bersama termasuk mencegah vaccine nationalism. Yang dimaksud vaccine nationalism adalah pengembangan vaksin yang hanya diperuntukkan untuk kepentingan nasional atau satu negara saja," ujar Wiku dalam konferensi pers, Selasa, 1 September 2020.

    Ia mengatakan saat ini telah dibentuk juga organisasi khusus bernama ACT Accelerator. Organisasi ini, kata dia, terdiri dari lintas sektor, baik pemerintah hingga swasta global. Tujuannya  untuk pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam rangka vaksin. "Supaya lebih tepat dan menjamin bahwa produk vaksin dapat diakses oleh siapa pun dan kapan pun," kata Wiku Adisasmito.

    Wiku berujar bahwa sekarang kerja sama dikembangkan oleh berbagai pihak dunia, termasuk Indonesia, dalam rangka memenuhi kebutuhan vaksin. Komitmen politik antar-negara, kata dia, dibutuhkan dalam menangani kerjasama lintas negara tersebut.

    Indonesia sendiri tengah mengembangkan sejumlah vaksin. Yang bekerjasama dengan negara lain di antaranya ada BioFarma dengan Sinovac, Sinopharm-Kimia Farma-Group42 dari Uni Emirat Arab, dan Genoxine dengan Kalbe Farma.

    Adapun vaksin Merah Putih yang sepenuhnya dibuat oleh tangan dalam negeri juga tengah berproses. Ditargetkan vaksin hasil kerjasama dengan negara luar ini dapat mulai diproduksi massal pada akhir 2020 dan sepanjang 2021. Vaksin Merah Putih ditargetkan selesai pada pertengahan 2021.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Pilkada 2020 Jalan Terus, Ada Usulan Perihal Pelaksanaan dalam Wabah Covid-19

    Rapat kerja antara DPR, Pemerintah, KPU, Bawaslu dan DKPP menyepakati bahwa Pilkada 2020 berlangsung 9 Desember 2020 dengan sejumlah usulan tambahan.