Gangguan Listrik Hambat Kinerja Laboratorium Uji Covid-19 di Papua

Reporter:
Editor:

Eko Ari Wibowo

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Peneliti mengamati ekstrak bahan alam untuk imunomodulator (peningkat imun tubuh) bagi pasien COVID-19 di Laboratorium Pusat Penelitian Bioteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Cibinong, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Jumat 17 Juli 2020. LIPI bekerja sama dengan sejumlah instansi terkait saat ini sedang melakukan tahap uji klinik penggunaan imunomodulator berbahan herbal, seperti jahe merah, meniran, sambiloto, dan sembung pada pasien di Rumah Sakit Darurat Penanganan COVID-19 Wisma Atlet Jakarta dan ditargetkan selesai akhir Juli 2020. ANTARA FOTO/Aditya Pradana PutrA

    Peneliti mengamati ekstrak bahan alam untuk imunomodulator (peningkat imun tubuh) bagi pasien COVID-19 di Laboratorium Pusat Penelitian Bioteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Cibinong, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Jumat 17 Juli 2020. LIPI bekerja sama dengan sejumlah instansi terkait saat ini sedang melakukan tahap uji klinik penggunaan imunomodulator berbahan herbal, seperti jahe merah, meniran, sambiloto, dan sembung pada pasien di Rumah Sakit Darurat Penanganan COVID-19 Wisma Atlet Jakarta dan ditargetkan selesai akhir Juli 2020. ANTARA FOTO/Aditya Pradana PutrA

    TEMPO.CO, Jakarta - Peneliti Balai Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Litbangkes) Papua, Hana Krismawati mengungkapkan gangguan listrik kerap menjadi kendala yang dihadapi petugas di laboratorium uji spesimen Covid-19 di Jayapura.

    “Kadang yang menjadi kendala di fasilitas saat kita harus berhadapan dengan electricity drop di Papua yang sering terjadi,” kata Hana dalam webinar Lapor Covid-19, Sabtu, 1 Agustus 2020.

    Hana mengatakan, gangguan listrik di Jayapura sudah menjadi makanan sehari-hari. Ia mengatakan, gangguan tersebut membuat alat atau mesin PCR di Balai Litbangkes Papua sering mati listrik dan pindah-pindah ke genset.

    Selain itu, mesin PCR CFX96 tiap hari beroperasi 8-10 jam dengan masa istirahat 1 jam. “Kalau sering mati listrik akan bertahan berapa lama,” ujarnya.

    Hana mengatakan, fasilitas di Balai Litbangkes Papua sebetulnya sudah cukup memadai. Balai ini memiliki 3 unit Biological Safety Cabinet (BSC) dan 2 mesin qPCR (CFX96 Biorad yang utama dan Pikoreal sebagai cadangan). Namun mesin yang dapat dioperasikan hanya 1 Biorad, sedangkan Pikoreal belum bisa digunakan karena harus dioptimalisasi terlebih dulu dan butuh waktu.

    “Ini yang agak deg-degan. Mesinnya sanggup enggak. Kalau enggak ada tambahan mesin, ya, kita berharap sama mesin ini,” katanya.

    FRISKI RIANA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Penjelasan Bamsoet Terkait Aturan Kepemilikan Senjata Api 9mm

    Bamsoet meluruskan pernyataan terkait usul agar Polri memperbolehkan masyarakat memiliki senjata api 9mm untuk membela diri. Mengacu pada aturan.