Nadiem Evaluasi Ormas yang Lolos Program Organisasi Penggerak

Reporter:
Editor:

Aditya Budiman

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Mendikbud RI Nadiem Makarim meninjau SMAN 4 Kota Sukabumi, Jawa Barat, pada Rabu 8 Juli 2020, terkait persiapan dibukanya kembali pelaksanaan kegiatan belajar mengajar tatap muka di sekolah yang rencananya mulai Senin 13 Juli 2020. (Antara/Aditya Rohman)

    Mendikbud RI Nadiem Makarim meninjau SMAN 4 Kota Sukabumi, Jawa Barat, pada Rabu 8 Juli 2020, terkait persiapan dibukanya kembali pelaksanaan kegiatan belajar mengajar tatap muka di sekolah yang rencananya mulai Senin 13 Juli 2020. (Antara/Aditya Rohman)

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim akan melakukan evaluasi lanjutan terhadap organisasi yang sudah lolos seleksi Program Organisasi Penggerak (POP). “Kemdikbud telah memutuskan untuk melakukan proses evaluasi lanjutan untuk menyempurnakan POP,” kata Nadiem dalam webinar, Jumat, 24 Juli 2020.

    Nadiem mengatakan proses evaluasi lanjutan dilakukan setelah menerima sejumlah masukan terkait POP. Rencananya, evaluasi akan memakan waktu 3-4 pekan dengan mengukur tiga parameter.

    Pertama, Kemendikbud akan memastikan standar akuntabilitas organisasi yang lolos POP. Kedua, memastikan kredibilitas dan integritas organisasi. Ketiga, memastikan program yang dilakukan organisasi bisa dilaksanakan pada masa pandemi Covid-19.

    Menurut Nadiem, evaluasi ini akan melibatkan pihak eksternal, seperti lembaga pemerintahan, organisasi masyarakat yang sudah puluhan tahun berdedikasi di bidang pendidikan dan para pakar pendidikan. “Kami sangat inginkan opini, pendapat, dan dukungan dari mereka,” ujarnya.

    Program Organisasi Penggerak merupakan program peningkatan kualitas pendidikan dan penguatan sumber daya manusia yang digagas oleh Dirjen Guru dan Tenaga Kependidikan Kemendikbud. Beberapa waktu lalu, Kemendikbud mengumumkan ada 183 proposal dari 156 organisasi yang lolos seleksi.

    Belakangan, kebijakan ini menuai kritik setelah dua organisasi Islam terbesar di Indonesia, Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama, memutuskan mundur dari POP. Kedua organisasi mempertanyakan transparansi proses seleksi karena diduga ada Ormas abal-abal yang lolos dan mendapat bantuan dana hingga Rp 20 miliar.

    FRISKI RIANA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Jaksa Pinangki Ditahan, Diduga Terima Rp 7,4 Miliar dari Djoko Tjandra

    Kejaksaan Agung menetapkan Jaksa Pinangki sebagai tersangka dalam perkara dugaan gratifikasi. Ia dikabarkan menerima Rp 7,4 Miliar dari Djoko Tjandra.