KPK Peringatkan Pemilik Bank Yudha Bakti Bersaksi di Kasus Nurhadi

Reporter:
Editor:

Budi Riza

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Tersangka mantan Sekretaris Mahkamah Agung (MA) Nurhadi, seusai menjalani pemeriksaan, di gedung Komisi Pemberantasan Korupsi, Jakarta, Rabu, 17 Juni 2020. Nurhadi diperiksa sebagai tersangka dalam tindak pidana korupsi kasus dugaan menerima suap sebesar Rp 46 miliar.  TEMPO/Imam Sukamto

    Tersangka mantan Sekretaris Mahkamah Agung (MA) Nurhadi, seusai menjalani pemeriksaan, di gedung Komisi Pemberantasan Korupsi, Jakarta, Rabu, 17 Juni 2020. Nurhadi diperiksa sebagai tersangka dalam tindak pidana korupsi kasus dugaan menerima suap sebesar Rp 46 miliar. TEMPO/Imam Sukamto

    TEMPO.CO, Jakarta -  Komisi Pemberantasan Korupsi atau KPK mengingatkan pemilik Bank Yudha Bakti, Mindharta Ghozali, untuk memenuhi panggilan pemeriksaan. Dia akan diperiksa sebagai saksi dalam kasus dugaan korupsi mantan Sekretaris Mahkamah Agung, Nurhadi.

    "KPK mengingatkan agar yang bersangkutan dan pihak-pihak lain untuk hadir memenuhi panggilan penyidik karena ada konsekuensi hukum apabila tidak hadir tanpa keterangan," kata Ali Fikri, pelaksana Tugas Juru Bicara KPK, Jumat, 26 Juni 2020.

    Ali mengatakan penyidik telah memanggil Mindharta pada Kamis, 25 Juni 2020. Namun, dia mangkir dari panggilan itu. Ali mengatakan penyidik akan kembali memanggilnya untuk diperiksa pada 30 Juni 2020.

    Dalam perkara ini, KPK menetapkan tiga orang menjadi tersangka, yakni Nurhadi; menantunya, Rezky Herbiyono dan Hiendra. KPK menduga Nurhadi melalui Rezky menerima suap dan gratifikasi senilai Rp 46 miliar.

    Uang itu diduga diberikan agar Nurhadi mengurus perkara perdata antara PT MIT melawan PT Kawasan Berikat Nusantara. KPK menyebut menantu Nurhadi menerima sembilan lembar cek atas nama PT MIT dari Direktur PT MIT, Hiendra Soenjoto, untuk mengurus perkara itu.

    ROSSENO AJI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Sepak Terjang Artidjo Alkostar Si Algojo Koruptor

    Artidjo Alkostar, bekas hakim agung yang selalu memperberat hukuman para koruptor, meninggal dunia pada Ahad 28 Februari 2021. Bagaimana kiprahnya?