Berkaca Kasus Bintang Emon, Ernest Khawatir Pilpres Lebih Gaduh

Reporter:
Editor:

Syailendra Persada

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Komika sekaligus Sutradara Ernest Prakasa dalam acara Temu Toleran Vol 6 Edisi IMLEK: Merayakan Toleransi, Merawat Tradisi di Jakarta pada 24 Januari 2020. SabangMerauke/Suci Robiatus

    Komika sekaligus Sutradara Ernest Prakasa dalam acara Temu Toleran Vol 6 Edisi IMLEK: Merayakan Toleransi, Merawat Tradisi di Jakarta pada 24 Januari 2020. SabangMerauke/Suci Robiatus

    TEMPO.CO, Jakarta - Komika Ernest Prakasa mengatakan berkaca dari serangan Bintang Emon membuat ia khawatir membayangkan gelaran Pemilihan Presiden atau Pilpres 2024.

    Ia memperkirakan akan ada lebih banyak keributan. “Kalau kita sereaktif ini, Pilpres berikutnya bisa kaya apa gitu rusuhnya,” kata Erntest dalam diskusi 'Ini Budi: Ekonomi, Politik, Komedi' yang disiarkan di Instagram Tempo.co pada Sabtu, 20 Juni 2020.

    Ernest mengatakan setelah mengunggah video yang mengkritik tuntutan terhadap penyerang penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi Novel Baswedan, Emon diserang dengan isu narkoba. Setelah itu, ada orang yang berusaha meretas email dan akun Twitter Bintang.

    Ia menduga ada tiga pihak yang kemungkinan melakukan fitnah dan upaya peretesan itu. Pertama, adalah orang pemerintah yang tidak suka dengan kritik Bintang Emon. Kedua, ada orang yang mencoba mengesankan bahwa pemerintah tidak suka dengan kritik. Dan terakhir, ada pihak yang mencoba menutupi isu rendahnya tuntutan tersebut.

    “Yang mana yang bener enggak tahu, tapi yang pasti kita ini reaktif banget, gampang banget di pancing,” ujar dia.

    Ernest Prakarsa menduga ada pihak yang tidak suka dengan keberadaan standup komedian seperti dirinya dan Bintang. Dia bilang materi kritik yang dibawakan oleh standup komedian bisa menyadarkan orang bahwa ada sesuatu yang salah.

    “Akhirnya menurut saya kasus yang menimpa standup komedian jadi peluang untuk orang yang ga suka dengan standup komedian membentuk narasi bahwa komika itu trouble maker,” kata dia.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    PTM Lahirkan Klaster Covid-19 di Sekolah, 3 Provinsi Catat Lebih dari 100 Gugus

    Kebijakan PTM mulai diterapkan sejak akhir Agustus lalu. Namun, hanya anak 12 tahun ke atas yang boleh divaksin. Padahal, PTM digelar mulai dari PAUD.