Cegah Ambil Paksa Jenazah Covid-19, Polri Siagakan Personel di RS

Reporter:
Editor:

Endri Kurniawati

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Petugas medis menggunakan Alat Pelindung Diri (APD) saat memakamkan jenazah pasien Covid-19 di TPU Pondok Ranggon, Jakarta, Sabtu, 16 Mei 2020. Juru Bicara Kasus Covid-19, Achmad Yurianto mengumumkan update terbaru jumlah kasus positif virus corona atau Covid-19 di Indonesia dengan 1.089 orang meninggal dunia. TEMPO / Hilman Fathurrahman W

    Petugas medis menggunakan Alat Pelindung Diri (APD) saat memakamkan jenazah pasien Covid-19 di TPU Pondok Ranggon, Jakarta, Sabtu, 16 Mei 2020. Juru Bicara Kasus Covid-19, Achmad Yurianto mengumumkan update terbaru jumlah kasus positif virus corona atau Covid-19 di Indonesia dengan 1.089 orang meninggal dunia. TEMPO / Hilman Fathurrahman W

    TEMPO.CO, Jakarta - Kepolisian Daerah Sulawesi Selatan menugasi puluhan personel gabungan Polri-TNI untuk berjaga di setiap rumah sakit. Langkah itu dilakukan setelah terjadinya sejumlah insiden pengambilan paksa jenazah pasien Covid-19 di beberapa rumah sakit.

    "Untuk stand by penjagaan, kami tempatkan puluhan personel. Namun, jika membutuhkan dukungan, akan ada personel kekuatan besar yang siap meluncur ke lokasi," ujar Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Kepolisian Daerah Sulawesi Selatan Komisaris Besar Ibrahim Tompo saat dikonfirmasi pada Ahad, 14 Juni 2020.

    Dalam kasus pengambilan paksa, kepolisian telah menangkap 45 orang. Mereka pihak keluarga atau kerabat dari pasien Covid-19. Namun dari puluhan orang itu, hanya 12 orang yang telah ditetapkan sebagai tersangka.

    Kepala Kepolisian RI Jenderal Idham Azis mengeluarkan Surat Telegram Rahasia tanggal 5 Juni 2020 untuk menyikapi peristiwa pengambilan paksa jenazah dan jatuhnya jenazah dari peti saat hendak dikuburkan.

    Salah satu poin yang tertera dalam surat telegram itu adalah orang dalam pengawasan (ODP) dan pasien dalam pengawasan (PDP) diprioritaskan dalam pelaksanaan tes swab. Tak hanya agar insiden penjemputan paksa jenazah pasien Covid-19 tidak berulang, tetapi juga untuk memberikan kejelasan rekam medis kepada keluarga.

    Pengambilan paksa jenazah pasien Covid-19 kerap terjadi karena tidak ada kejelasan status positif atau negatif yang dibawa oleh pasien. "Kalau pasien lekas dites swab, petugas medis memiliki dasar untuk menjelaskan kepada keluarga bahwa pasien ini meninggal betul-betul karena covid-19 bukan dari dugaan-dugaan sehingga menimbulkan masalah di lapangan," kata Kepala Badan Pemelihara Keamanan Polri Komisaris Jenderal Agus Andrianto saat dikonfirmasi pada Kamis, 11 Juni 2020.

    Jika sudah ada kejelasan, pihak keluarga yang membawa paksa jenazah dapat diproses hukum. Jenazah yang positif Covid-19 pun wajib dimakamkan sesuai protokol.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Pilkada 2020 Prioritaskan Keselamatan dan Kesehatan

    Komisi Pemilihan Umum siap menggelar Pemilihan Kepada Daerah Serentak di 9 Desember 2020. KPU prioritaskan keselamatan masyarakat dalam Pilkada 2020.