Covid-19 Usai September? Epidemolog: Sulit Jika Tak PSBB Nasional

Reporter:
Editor:

Endri Kurniawati

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi virus Corona atau Covid-19. Shutterstock

    Ilustrasi virus Corona atau Covid-19. Shutterstock

    TEMPO.CO, Jakarta - Epidemolog asal Universitas Indonesia Pandu Riono meragukan prediksi berakhirnya wabah Covid-19 di Indonesia pada 7 September 2020, yang didasarkan pada penelitian peneliti Singapore University of Technology and Design. "Kalau terlalu pasti sampai tanggal, it is too good to be true," kata Pandu saat dihubungi Tempo, Selasa, 28 April 2020.

    Dalam hasil penelitian yang diterima Tempo, Senin, 27 April 2020, disebutkan bahwa prediksi ini dibuat tidak secara random. "Dalam kasus ini, untuk memperkirakan siklus hidup pandemi, data harian Covid-19 dari data dunia yang kami miliki, digunakan untuk meregresikan model SIR (susceptible-infected-recovered) Covid-19, menggunakan kode open-data dari Milan Batista," ujar Luo.

    Dalam hasil penelitian yang dibuat hingga 26 April 2020 itu, diperkirakan Covid-19 di seluruh dunia akan berakhir 97 persen pada 30 Mei 2020. Pada 17 Juni 2020 diprediksi angka berakhirnya Covid-19 mencapai 99 persen. Namun dari penelitian itu, wabah ini diperkirakan berakhir sebesar 100 persen di seluruh dunia baru pada 9 Desember 2020.

    Di Indonesia, berakhirnya Covid-19 sebesar 97 persen diprediksi terjadi pada 7 Juni 2020 dan mencapai 99 persen pada 24 Juni 2020. Sedangkan perkiraan selesai 100 persen baru pada 7 September 2020.

    Pandu mengatakan bisa saja prediksi itu benar. Namun ia menegaskan hal ini akan sangat tergantung pada intervensi yang dilakukan pemerintah. Meski diharapkan beberapa wilayah Indonesia akan menurun pada periode itu, namun situasi bisa berubah bila perpindahan manusia antar wilayah tidak dibatasi.

    Untuk berhasil menuntaskan Covid-19 dari Indonesia, pemerintah harus memperhitungkan banyak faktor. "Yang kita usulkan adalah mencakup nasional, agar dampaknya bisa serentak secara nasional," kata Pandu.

    Penerapan PSBB secara kedaerahan belum dapat diukur secara jelas. Sebenarnya, ada beberapa indikator yang bisa dijadikan patokan keberhasilan PSBB. Indikator itu adalah apakah masih ada kerumunan, kemacetan, warga yang tak menggunakan masker, warga yang tak mencuci tangan, warga yang tak cek suhu tubuh, hingga ketersediaan fasilitas cuci tangan.

    Dari semua indikator ini, kata Pandu, pemerintah tidak memiliki data pasti. Ia menilai tak ada manajemen yang baik dalam pelaksanaan PSBB di tiap daerah.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kemenag Berikan Pedoman Berkegiatan di Rumah Ibadah saat Pandemi

    Kementerian Agama mewajibkan jemaah dan pengurus untuk melaksanakan sejumlah pedoman ketika berkegiatan di rumah ibadah saat pandemi covid-19.