Banyak Perawat Sembunyikan Status Profesi karena Tangani Covid-19

Reporter:
Editor:

Amirullah

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Petugas medis menyiapkan ruang isolasi di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Cut Meutia, Aceh Utara, Aceh, Selasa 3 Maret 2020. RSUD Cut Mutia di Aceh Utara RSU Dr Zainoel Abidin di Banda Aceh merupakan rumah sakit rujukan bagi perawatan pasien terinfeksi virus Corona (Covid 19) di Provinsi Aceh yang telah siap dengan tenaga medis, ruangan dan peralatan khusus. ANTARA FOTO/Rahmad

    Petugas medis menyiapkan ruang isolasi di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Cut Meutia, Aceh Utara, Aceh, Selasa 3 Maret 2020. RSUD Cut Mutia di Aceh Utara RSU Dr Zainoel Abidin di Banda Aceh merupakan rumah sakit rujukan bagi perawatan pasien terinfeksi virus Corona (Covid 19) di Provinsi Aceh yang telah siap dengan tenaga medis, ruangan dan peralatan khusus. ANTARA FOTO/Rahmad

    TEMPO.CO, Jakarta - Hasil survei Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia dan Ikatan Perawat Kesehatan Jiwa Indonesia menunjukkan ratusan perawat pernah merasa dipermalukan oleh orang lain, karena statusnya sebagai perawat Covid-19 atau bertugas di rumah sakit tempat penanganan Covid-19. Ini membuat mereka memilih menyembunyikan status pekerjaan mereka.

    “Alih-alih merasa bangga menjadi pahlawan, banyak perawat justru memilih menyembunyikan status sebagai perawat,” kata Ketua Divisi Penelitian Ikatan Perawat Kesehatan Jiwa Indonesia Herni Susanti, dalam siaran tertulisnya, Sabtu, 11 April 2020.

    Menurut Herni, stigmatisasi terhadap perawat Covid-19 ini dapat menimbulkan masalah psikososial, seperti stres, sedih, dan malu. Perawat yang terkena stigma ini juga memikirkan bagaimana dampak buruk yang akan dihadapi keluarga dan orang-orang terdekat, karena mereka ikut diejek dan dijauhi.

    “Survei ini membuktikan adanya penolakan terhadap perawat yang selama ini diberitakan media,” ujar Herni.

    Jajak pendapat yang dilakukan pada awal April 2020 terhadap 2.050 perawat se-Indonesia ini juga menunjukkan, 140 perawat pernah merasa dipermalukan karena menangani pasien Covid-19. Bahkan 135 perawat pernah diminta meninggalkan tempat tinggal mereka.

    Herni mengatakan, menurut survei, bentuk nyata penolakan yang dialami perawat antara lain ancaman pengusiran (66 responden), orang-orang di sekitar menghindar dengan menutup pagar rumah atau pintu mereka ketika melihat perawat (160 responden), dan masyarakat ikut menjauhi keluarga perawat (71 responden).

    Dia mengatakan, ada sejumlah upaya yang dapat dilakukan untuk menghentikan stigma tersebut. Misalnya menyebarkan fakta dan bukan mitos. Sebab, stigma dapat terjadi karena kurangnya pengetahuan tentang penyakit Covid-19 ditularkan dan diobati, serta dicegah.

    Upaya lainnya dengan melibatkan tokoh sosial, seperti pemimpin agama untuk menyadarkan masyarakat tentang akibat serius dari stigmatisasi terhadap perawat dan tenaga kesehatan lainnya. “Bantuan selebriti yang disegani juga dapat dilakukan untuk memperkuat pesan untuk mengurangi stigma,” ujar Herni.

    Herni juga meminta adanya pemberitaan seimbang oleh media secara kontekstual, menyebarkan informasi berbasis bukti, dan membantu memerangi informasi yang salah.

    Selanjutnya, membangun jaringan dukungan masyarakat untuk menunjukkan kepedulian dan empati untuk perawat dan tenaga kesehatan lain yang bertugas.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kemendikbud, yang Diperhatikan Saat Murid Belajar dari Rumah

    Solusi menghambat wabah Covid-19 diantaranya adalah belajar dari rumah dengan cara menghentikan sekolah biasa dan menggantinya dengan sekolah online.