Pengamat Nilai Jokowi Salah Tafsir Karantina Wilayah dan PSBB

Reporter:
Editor:

Syailendra Persada

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sejumlah penumpang menaiki bus Transjakarta di Jakarta, Selasa, 17 Maret 2020. Saat ini pengelola transportasi umum telah menerapkan physical distancing pada antrean penumpang dan sosialisasi pencegahan penularan virus corona. ANTARA/M Risyal Hidayat

    Sejumlah penumpang menaiki bus Transjakarta di Jakarta, Selasa, 17 Maret 2020. Saat ini pengelola transportasi umum telah menerapkan physical distancing pada antrean penumpang dan sosialisasi pencegahan penularan virus corona. ANTARA/M Risyal Hidayat

    TEMPO.CO, Jakarta - Pengamat sosial politik, Ubedilah Badrun, menilai Presiden Joko Widodo atau Jokowi lebih mengutamakan ekonomi ketimbang nyawa rakyat dalam menangani pandemi Corona. "Karena meski ada pembatasan sosial berskala besar (PSBB) tetapi masih membolehkan orang hilir mudik menjalankan aktivitas ekonomi. Padahal aktivitas ekonomi itu mendorong masih tingginya lalu lintas sosial," kata Ubedilah dalam siaran tertulisnya, Kamis, 2 April 2020.

    Ubedilah mengatakan, ketika lalu lintas sosial masih dibolehkan justru ada potensi besar penyebaran Corona terjadi. Sehingga korban akan terus berjatuhan. Pengajar Universitas Negeri Jakarta ini menilai, ada imajinasi atau tafsir yang keliru pada Jokowi tentang Karantina Wilayah sebagaimana yang dimaksud dalam pasal 53, 54, 55 UU Nomor 6 Tahun 2018.

    Jokowi, kata Ubedilah, membayangkan karantina wilayah itu harus berlaku di seluruh wilayah Indonesia sehingga takut ekonomi lebih cepat ambruk. Jika mencermati isi UU No 6 tahun 2018 itu, Ubedilah mengatakan akan menemukan benang merahnya bahwa untuk detail karantina wilayah perlu diatur dalam bentuk Peraturan Pemerintah (PP).

    "Nah dalam PP itu bisa lebih didetailkan lagi bahwa karantina wilayah hanya boleh diajukan oleh daerah yang termasuk zona merah Covid-19 melalui surat resmi kepada Presiden," katanya.

    Menurut Ubedilah, jika karantina wilayah hanya boleh dilakukan di daerah zona merah akan lebih efektif dan tidak akan mengganggu ekonomi secara signifikan. Pada saat yang sama, Corona tidak menyebar ke mana-mana. Adapun dalam kebijakan PSBB yang masih membolehkan aktivitas sosial, maka penyebaran Covid-19 akan terus berantai dan panjang waktunya untuk menghentikan rantai penyebaran.

    Ubedilah juga menilai Jokowi semestinya tidak perlu takut perekonomian Indonesia makin memburuk, karena sudah membuat Perpu Nomor 1 tahun 2020 tentang kebijakan keuangan negara dan stabilitas sistem keuangan untuk penanganan pandemi Covid-19. "Jadi tidak perlu khawatir tentang kondisi ekonomi karena sudah dibuat perpunya yang cenderung 'menghalalkan segala cara' itu untuk mengamankan ekonomi Indonesia," kata dia.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Rekaman 8 Menit 46 Detik Drama Kematian George Floyd

    Protes kematian George Floyd berkecamuk dari Minneapolis ke berbagai kota besar lainnya di AS. Garda Nasional dikerahkan. Trump ditandai oleh Twitter.