Soal Radikalisme, Eks Kepala BNPT: Berhenti Bawa Agama dan Tuhan

Reporter:
Editor:

Syailendra Persada

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ansyaad Mbai. TEMPO/Dhemas Reviyanto

    Ansyaad Mbai. TEMPO/Dhemas Reviyanto

    TEMPO.CO, Jakarta - Mantan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Ansyaad Mbai, meminta masyarakat yang terpapar radikalisme untuk berhenti membawa nama agama dan tuhan.

    "Berhentilah bawa-bawa nama agama dan tuhan untuk melakukan kekerasan, terorisme, melakukan pembunuhan, melakukan makar. Ini yang sudah terjadi di kita kan," kata Ansyaad dalam diskusi Polemik MNC Trijaya bertajuk "WNI ISIS Dipulangkan atau Dipulangkan?" di Jakarta Pusat, Sabtu 7 Maret 2020.

    Ansyaad menjelaskan, membawa nama agama dan tuhan untuk menyebarkan kebencian dan permusuhan itu sudah dialami oleh Indonesia selama 3 tahun terakhir. "Di Pilkada DKI dan Pilpres. Ini terjadi negara kita dalam situasi yang kritis, terbelah. Berhentilah untuk itu," ujarnya.

    Kepala BNPT tahun 2010-2014 itu mengatakan, radikalisme bersumber dari 3 hal, pertama adanya kelompoknya yang mengklaim kebenaran beragama, bahwa hanya pemahaman kelompoknya yang benar dan kelompok lain adalah kafir.

    Kedua, kelompok ini merasa paling paham doktrin agama Al-Quran dan hadis. "Hanya dia paling paham, yang tidak sesuai dengan paham dia, salah," kata Ansyaad.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    PTM Lahirkan Klaster Covid-19 di Sekolah, 3 Provinsi Catat Lebih dari 100 Gugus

    Kebijakan PTM mulai diterapkan sejak akhir Agustus lalu. Namun, hanya anak 12 tahun ke atas yang boleh divaksin. Padahal, PTM digelar mulai dari PAUD.