Jokowi Diminta Beri Pernyataan Jika Indonesia Bebas Corona

Reporter:
Editor:

Amirullah

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Joko Widodo  Jokowi bersama jajaran menterinya menggelar rapat terbatas membahas dampak ekonomi dari virus corona di Istana Bogor, Jawa Barat pada Selasa, 4 Februari 2020. TEMPO/Dewi Nurita

    Presiden Joko Widodo Jokowi bersama jajaran menterinya menggelar rapat terbatas membahas dampak ekonomi dari virus corona di Istana Bogor, Jawa Barat pada Selasa, 4 Februari 2020. TEMPO/Dewi Nurita

    TEMPO.CO, Jakarta - Politikus Partai Keadilan Sejahtera Bukhari Yusuf meminta pemerintah benar-benar cermat dan transparan kepada publik perihal penyebaran virus Corona di Indonesia. Bukhari pun mendesak Presiden Joko Widodo (Jokowi) memberikan pernyataan langsung jika memang Indonesia bebas dari Covid-19 itu.

    "Presiden (harus) sampaikan, 'Saya sebagai Presiden RI, sampai saat ini saya menyatakan bahwa Indonesia masih zero', karena ini situasinya bukan porsi menteri lagi. Ini sudah presiden," kata Bukhari dalam diskusi di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, Ahad, 1 Maret 2020.

    Bukhari mengatakan Jokowi harus menyampaikan pernyataan itu secara langsung demi meyakinkan masyarakat. Menurut dia, pernyataan itu tak cukup jika hanya disampaikan oleh Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto dan jajarannya.

    "Kalau pejabat menteri kesehatan (yang menyampaikan) ya saya kira hanya menjadi wacana publik," ujar anggota Komisi Agama atau Komisi VIII Dewan Perwakilan Rakyat ini.

    Bukhari pun mempertanyakan kemungkinan kelemahan deteksi dini di Indonesia hingga tak ditemukan orang yang terpapar Corona. Dia mewanti-wanti, jangan sampai Indonesia ketinggalan dari negara lain yang sudah lebih dulu bersiap.

    "Jangan sampai nanti ketinggalan, tiba-tiba sudah mewabah baru kita nyatakan. Itu yang kami khawatirkan," kata Bukhari.

    Desakan ini juga tak terlepas dari keraguan dunia internasional bahwa Indonesia bebas dari virus Corona. Bukhari merujuk pada peristiwa terakhir, yakni penghentian sementara umrah oleh Arab Saudi. Artinya, kata dia, Indonesia diperlakukan seperti negara-negara lain yang memiliki kasus Corona.

    Bukhari juga mencontohkan yang terjadi di Iran. Sejumlah pejabat seperti Wakil Presiden Iran Masoumeh Ebtekar dan Wakil Menteri Kesehatan Iran Iraj Harirchi ternyata positif Corona.

    "Kalau memang tidak ada sampaikan itu, tetapi harus bertanggung jawab. Hal ini perlu dijadikan sebagai data yang kuat untuk melakukan negosiasi diplomatik. Misalnya dengan Singapura, kita bisa menjelaskan kepada Singapura, begitu juga dengan Arab Saudi," kata dia.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Indonesia dapat Belajar dari Gelombang Kedua Wabah Covid-19 di India

    Gelombang kedua wabah Covid-19 memukul India. Pukulan gelombang kedua ini lebih gawat dibandingkan Februari 2021.