Pengamat: Saudi Arabia Kalkulasi Untung Rugi Terima Jemaah Umrah

Reporter:
Editor:

Endri Kurniawati

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ribuan umat muslim berdesak-desakan untuk menyentuh Kakbah saat melaksanakan umroh di bulan Ramadan di Mekah, Arab Saudi, 26 Mei 2019.  REUTERS/Waleed Ali

    Ribuan umat muslim berdesak-desakan untuk menyentuh Kakbah saat melaksanakan umroh di bulan Ramadan di Mekah, Arab Saudi, 26 Mei 2019. REUTERS/Waleed Ali

    TEMPO.CO, Jakarta - Pengamat hubungan internasional, Dinna Prapto Raharja, menilai pemerintah Arab Saudi kemungkinan sedang mengkalkulasi untung dan rugi menerima jemaah umrah dari negara lain. Menolak jemaah akan rugi karena berarti kehilangan penghasilan. “Menerima rugi karena menambah rentan negaranya atas penanganan jamaah asing plus risiko bagi penduduk setempat," kata Dinna kepada Tempo, Jumat, 28 Februari 2020.

    Dinna mengatakan, jemaah umrah yang ditolak Arab Saudi sebagian besar karena berasal dari negara-negara yang terindikasi virus Corona, khususnya Asia, karena dekat dengan titik-titik yang mungkin menginfeksi. Apalagi, kata Dinna, jemaah asal Indonesia sangat besar. "Jadi kalkulasinya kemungkinan karena itu."

    Pertimbangan Saudi melarang jemaah umrah, kata Dinna, patut dihormati. Namun, ia mengatakan yang perlu dikembangkan adalah diskusi global tentang penanganan wabah virus Corona, baik dari cara pencegahan sampai penanganan. Sebab, saat jatuh korban dipastikan biaya yang harus ditanggung suatu negara sangat besar. Apalagi kalau korbannya orang asing. “Sudah dibutuhkan upaya membentuk global health insurance against epidemic diseases."

    Kementerian Luar Negeri Arab Saudi memutuskan untuk menyetop izin kunjungan ibadah umrah dan akses ke makam Nabi Muhammad di Madinah untuk sementara akibat wabah virus Corona (COVID-19) yang kian meluas.

    Kedutaan Besar Republik Indonesia di Riyadh mengatakan pemberhentian penerimaan jemaah umrah oleh Arab Saudi bersifat sementara. Hal itu juga dilakukan guna melakukan upaya perlindungan yang maksimal terhadap keamanan warga negara dan penduduk.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    APBN 2020 Defisit 853 Triliun Rupiah Akibat Wabah Virus Corona

    Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati memprediksikan defisit pada APBN 2020 hingga Rp853 triliun atau 5,07 persen dari PDB akibat wabah virus corona.