Benny Tjokro Ibaratkan Kasus Jiwasraya dalam Kisah Petani Cabai

Reporter:
Editor:

Amirullah

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ekspresi tersangka Komisaris PT Hanson International Tbk (MYRX) Benny Tjokrosaputro saat meninggalkan gedung KPK usai menjalani pemeriksaan di Jakarta, Selasa, 21 Januari 2020. Benny yang merupakan tahanan Kejaksaan Agung, menjalani pemeriksaan perdana di KPK terkait kasus dugaan korupsi dalam pengelolaan keuangan dan dana investasi PT Asuransi Jiwasraya. TEMPO/Imam Sukamto

    Ekspresi tersangka Komisaris PT Hanson International Tbk (MYRX) Benny Tjokrosaputro saat meninggalkan gedung KPK usai menjalani pemeriksaan di Jakarta, Selasa, 21 Januari 2020. Benny yang merupakan tahanan Kejaksaan Agung, menjalani pemeriksaan perdana di KPK terkait kasus dugaan korupsi dalam pengelolaan keuangan dan dana investasi PT Asuransi Jiwasraya. TEMPO/Imam Sukamto

    TEMPO.CO, Jakarta - Sebuah surat disebut-sebut ditulis oleh Direktur Utama PT Hanson International, Benny Tjokrosaputro. Di surat itu, dia mengibaratkan kasus korupsi PT Asuransi Jiwasraya yang membelitnya menjadi tersangka dengan petani cabai. Cerita pendek dengan judul 'Kisah Petani Cabai' itu ia tulis dengan tangan di secarik kertas yang fotonya diperoleh Tempo.

    Pengacara Benny, Muchtar Arifin mengatakan belum tahu bahwa kliennya menulis cerita itu. Namun, ia membenarkan bahwa tulisan tangan dalam surat itu adalah milik kliennya. "Kalau saya lihat sih tulisannya iya," kata dia saat dihubungi, Selasa, 4 Februari 2020.

    Dalam suratnya, Benny bercerita ada seorang petani cabai yang sangat rajin. Seluruh penduduk desa sampai ikut bekerja bersama petani itu. "Bahkan sawah-sawah penduduk disewakan ke petani tersebut," kata dia seperti dikutip dari suratnya.

    Benny menjelaskan dalam catatan kaki, bahwa cabai adalah perumpamaan untuk saham Hanson. Sementara penduduk desa merupakan pemegang saham publik, kreditor, pegawai, dan rekanan yang berjumlah ribuan.

    Pada suatu hari, kata dia, ada pedagang besar memborong cabe dari si petani. Cabai itu kemudian dikirim atau didistribusikan ke pasar-pasar.

    "Tiba-tiba ada banjir besar," ujar Benny. Cabai dan dagangan lain milik si pedagang jadi tidak ada pembeli alias tidak laku. Beberapa hari kemudian, cabai tersebut busuk karena terendam air.

    Karena merugi, Benny melanjutkan, pedagang itu merencanakan menangkap si petani dengan alat bukti cabai busuk. Bahkan juga meneror keluarganya dan penduduk desa yang ikut bekerja, serta menyita sawah milik penduduk desa. "Ini terjadi karena pedagang tersebut sangat berkuasa," kata dia.

    Pada catatan kaki, Benny menjelaskan banjir dalam cerita ini adalah hoaks, fitnah dan isu negatif. Dia tak menjelaskan siapa yang dimaksud sebagai pedagang.

    "Saya percaya penguasa dan penegak hukum di negara ini yang merupakan wakil Tuhan tidak akan membenarkan perbuatan si pedagang," kata Benny di akhir suratnya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Polemik Aturan Ketenagakerjaan Dalam RUU Cipta Kerja

    Perubahan aturan ketenagakerjaan menurut pemerintah harus dilakukan agar mengundang investasi.