SBY: Sejarah Menguji Apakah Donald Trump Gemar Perang atau Tidak

Reporter:
Editor:

Syailendra Persada

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden RI ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono saat berbincang dengan Presiden Joko Widodo di Ruang Garuda, Istana Merdeka, Jakarta, Kamis 10 Oktober 2019. Pertemuan dilakukan di tengah isu Demokrat menyatakan siap mendukung pemerintahan Jokowi-Ma'ruf Amin. Meskipun, PDIP telah mengutarakan sinyal penolakan ada parpol di luar koalisi Jokowi-Ma'ruf yang gabung usai Pilpres 2019. TEMPO/Subekti.

    Presiden RI ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono saat berbincang dengan Presiden Joko Widodo di Ruang Garuda, Istana Merdeka, Jakarta, Kamis 10 Oktober 2019. Pertemuan dilakukan di tengah isu Demokrat menyatakan siap mendukung pemerintahan Jokowi-Ma'ruf Amin. Meskipun, PDIP telah mengutarakan sinyal penolakan ada parpol di luar koalisi Jokowi-Ma'ruf yang gabung usai Pilpres 2019. TEMPO/Subekti.

    TEMPO.CO, Jakarta - Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) angkat bicara soal konflik yang terjadi antara Amerika Serikat dan Iran setelah insiden tewasnya Jenderal Iran Qassem Soleimani oleh serangan udara Amerika Serikat beberapa hari lalu. 

    "Saya orang biasa dan tak punya kekuasaan yang formal. Namun, sebagai warga dunia yang mencintai perdamaian dan keadilan, secara moral saya merasa punya kewajiban to say something," kata SBY dalam tulisannya yang dibagikan sejumlah pejabat teras Partai Demokrat pada Selasa, 7 Januari 2020.

    SBY mengatakan aktif siang dan malam mengikuti pemberitaan internasional selepas dibunuhnya Jenderal Iran Soleimani. Dia menyimak aksi-aksi dan respons politik, sosial, dan militer di banyak negara yang punya kaitan dan kepentingan dengan Timur Tengah, utamanya Iran, AS, dan Irak. Bukan cuma reaksi di tingkat pimpinan puncak, tetapi juga pihak eksekutif, legislatif, militer, dan rakyat.

    "Bukan hanya aksi-aksi nyata yang dilakukan di masing-masing negara, tetapi juga pada hebohnya sikap ancam-mengancam, perang mulut, dan retorika besar yang digaungkan," ujar dia.

    SBY pun turut mempertanyakan apa yang akan terjadi selanjutnya, termasuk kemungkinan terjadinya perang besar. Meski tak yakin bakal terjadi, SBY membeberkan tiga penyebab utama perang.

    Tiga penyebab terjadinya perang besar menurut SBY adalah miskalkulasi, pemimpin yang eratik, dan nasionalisme yang ekstrem. Miskalkulasi, kata dia, seperti merujuk pada sejarah peristiwa Perang Dunia II yang disulut pengeboman pangkalan Pearl Harbour, Amerika Serikat oleh tentara Jepang.

    Menurut SBY, para ahli sejarah menilai bahwa tindakan Jepang menyerang Amerika Serikat adalah sebuah kesalahan. Langkah itu ibarat membangunkan macan tidur. Kesalahan itu sebuah "strategic miscalculation" yang dilakukan oleh para politisi dan jenderal-jenderal militer Jepang.

    "Dari kacamata ini, sejarah tengah menunggu apakah politisi dan jenderal Amerika Serikat dan Iran melakukan miskalkulasi, sehingga akhirnya mendorong terjadinya perang terbuka di antara mereka," ujar purnawirawan jenderal ini.

    Di luar itu, kata SBY, ada pula kemungkinan tiba-tiba terjadi peristiwa di lapangan yang bisa ditafsirkan untuk melancarkan peperangan, meskipun tak direncanakan atau diperintahkan. Jika dua hal ini tak terjadi, kata dia, dunia bisa bernapas lega kendati sementara.

    SBY melanjutkan, perang juga mudah terjadi di tangan pemimpin yang eratik dan gemar perang. Menurut dia, sejarah juga sedang menguji apakah Presiden AS Donald Trump, Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Khamenei, dan Presiden Iran Rouhani termasuk kategori pemimpin eratik dan gemar perang atau tidak.

    Presiden dua periode ini pun berharap, para pemimpin tersebut tidak termasuk tipe penggemar perang. Dia berdoa dan berharap agar mereka berpikir jernih dan arif.

    "Saya tahu bahwa mereka juga patriot sejati bagi tanah airnya. Namun, patriotisme dan nasionalisme yang positif tidaklah boleh menghalang-halangi para pemimpin itu jika hendak menyelesaikan masalah sedamai mungkin," ujar dia.

    SBY juga menyinggung soal gelombang nasionalisme, populisme, rasisme, radikalisme, dan otoritarianisme yang makin menguat. Dia mengakui Trump turut mengangkat sentimen tersebut dengan slogan "America First", meskipun bukan dia satu-satunya.

    Menyikapi konflik AS-Iran ini, SBY berharap para pemimpin dua negara itu bisa berpikir jernih dan duduk bersama mencari solusi. Dia juga berharap Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) dan para pemimpin dunia untuk melakukan sesuatu.

    "Saya punya hak untuk cemas dan sekaligus menyerukan kepada para pemimpin dunia agar tidak abstain, dan tidak melakukan pembiaran. Maksud saya, janganlah para world leaders itu do nothing. Mereka, termasuk Perserikatan Bangsa-Bangsa, harus do something," ujar SBY.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Portofolio Saham Asabri Melorot 2013-2017

    PT Asabri mengalami kerugian akibat gegabah mengelola investasi. Badan Pemeriksa Keuangan dan Ombudsman Republik Indonesia curiga ada penyelewengan.