Curhatan Wiranto: Dituduh Jual Partai Sampai Biang Hanura Gagal

Reporter:
Editor:

Syailendra Persada

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Joko Widodo memberi ucapan selamat kepada Wiranto yang baru dilantik sebagai Ketua Dewan Pertimbangan Presiden di Istana Negara, Jakarta, 13 Desember 2019. Tempo/Subekti

    Presiden Joko Widodo memberi ucapan selamat kepada Wiranto yang baru dilantik sebagai Ketua Dewan Pertimbangan Presiden di Istana Negara, Jakarta, 13 Desember 2019. Tempo/Subekti

    TEMPO.CO, Jakarta - Pendiri Partai Hanura, Wiranto, curhat sebelum menyatakan mundur dari posisinya sebagai Ketua Dewan Pembina Partai dalam konferensi pers di Hotel Atlet Century, Jakarta pada Rabu, 18 Desember 2019.

    Wiranto mengaku sedih karena berkali-kali dituduh sebagai pengkhianat partai. Ia juga kecewa karena dituding sebagai biang kerok gagalnya Hanura masuk ke parlemen dalam pemilu 2019 ini.

    "Anda bayangkan bagaimana sedihnya saya dituduh seperti itu. Bagaimana mungkin saya pendiri partai, ingin menghancurkan partai," kata Wiranto dalam konferensi pers di Hotel Atlet Century, Jakarta pada Rabu, 18 Desember 2019.

    Berikut curhatan-curhatan Wiranto lainnya;

    1. Geram Didesak Mundur Kubu Oso

    Wiranto mengaku geram karena banyak kader Hanura kubu Oesman Sapta Odang (Oso) yang mendesaknya mundur sebagai Ketua Dewan Pembina Hanura, setelah ditunjuk sebagai Ketua Wantimpres. "Saya pasti akan mundur atas kesadaran sendiri, tapi gak usah didesak, diakal-akali, direkayasa," ujar Wiranto.

    2. Tersinggung Tak Diundang Oso ke Munas

    Wiranto juga mengaku tersinggung karena tidak diundang ke acara pembukaan Musyawarah Nasional (Munas) Hanura yang digelar di Hotel Sultan, Jakarta, Selasa, 17 Desember 2019. Munas itu mengukuhkan Oso sebagai ketua umum kembali.

    "Pembukaan Munas itu kan lazimnya mengundang presiden, ketua dewan pembina. Apalagi, saya yang mendirikan partai, menyerahkan kepemimpinan partai, tapi Munas kok enggak diundang?," ujar Wiranto.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Lika-Liku Calon Wakil Gubernur DKI Jakarta Pengganti Sandiaga Uno

    Kursi Wakil Gubernur DKI Jakarta kosong sejak Agustus 2018. Pada Januari 2020, Partai Keadilan Sejahtera dan Partai Gerindra mengajukan dua nama.