Era Milenial, Ma'ruf Amin: Harus Menjadi Da'i Digital

Reporter:
Editor:

Jobpie Sugiharto

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Wakil Presiden Ma'ruf Amin bersama para staf hendak menuju Masjid Baiturrahman, Kompleks Istana Wakil Presiden, Jakarta, untuk salat Jumat, 25 Oktober 2019. Tempo/Friski Riana

    Wakil Presiden Ma'ruf Amin bersama para staf hendak menuju Masjid Baiturrahman, Kompleks Istana Wakil Presiden, Jakarta, untuk salat Jumat, 25 Oktober 2019. Tempo/Friski Riana

    TEMPO.CO, Jakarta - Wakil Presiden sekaligus Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Ma'ruf Amin meminta para da'i di era milenial harus berdakwah menggunakan teknologi digital.

    "Harus menjadi da'i digital. Kalau saya kan sudah di zaman old. Nah sekarang da'i-da'i kita da'i zaman now. Zaman milenial. Zaman 4.0," kata Ma'ruf Amin saat membuka Rakornas Dakwah MUI di Hotel Grand Sahid Jaya, Jakarta, pada Senin, 2 Desember 2019.

    Menurut Ma'ruf, selain menjadi moderat atau wasathiyah, da'i juga harus wadigitaliyah atau mampu berda'i secara digital.

    Para da'i juga harus menjalankan dakwah dengan cara yang benar dan santun, seperti yang diajarkan Rasulullah Muhammad SAW.

    "Allah mengatakan, 'Rahmat Allah yang didirikan kepadamu Muhammad, Kamu itu santun. Kalau Kamu itu keras atau kasar dan keras hati mereka pasti akan lari'."

    Wapres menuturkan dakwah harus mengajak orang dengan sukarela, tidak boleh paksaan sebab tidak ada paksaan dalam agama. Para da'i harus mengajarkan hidup dalam suasana toleran.

    Ma'ruf Amin mengingatkan soal taswiyatul manhaj atau penyamaan persepsi untuk menerima perbedaan.

    "Tidak boleh ego kelompok. Itu tidak toleran, intoleran," ucapnya.

    Para da'i, selain menggunakan teknologi digital, juga harus membangun prinsip saling mencintai dan saling menyayangi. Bukan saling membenci dan saling memusuhi.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Perjalanan Pemakzulan Donald Trump Dari Ukraina Ke Kongres AS

    Dewan Perwakilan Rakyat Amerika Serikat mencetuskan penyelidikan untuk memakzulkan Presiden Donald Trump. Penyelidikan itu bermula dari Ukraina.