MUI Mulai Sertifikasi Pendakwah Agar Tak Ekstrim Kanan atau Kiri

Reporter:
Editor:

Syailendra Persada

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang penceramah membacahkan isi ceramah seusai pelaksaknaan Salat Idul Adha 1438 Hijriah, di Lapangan Mawang, Gowa, Sulawesi Selatan, Kamis 31 Desember 2017. Seperti pada tahun-tahun sebelumnya setiap hari raya, baik Idul Fitri dan Idul Adha, jamaah yang identik dengan pakaian serba hitam ini memang sudah dikenal lebih dulu menggelar ibadah salat tersebut. TEMPO/Iqbal Lubis

    Seorang penceramah membacahkan isi ceramah seusai pelaksaknaan Salat Idul Adha 1438 Hijriah, di Lapangan Mawang, Gowa, Sulawesi Selatan, Kamis 31 Desember 2017. Seperti pada tahun-tahun sebelumnya setiap hari raya, baik Idul Fitri dan Idul Adha, jamaah yang identik dengan pakaian serba hitam ini memang sudah dikenal lebih dulu menggelar ibadah salat tersebut. TEMPO/Iqbal Lubis

    TEMPO.CO, Jakarta - Majelis Ulama Indonesia atau MUI memulai program standardisasi pendakwah pada Senin, 18 November 2019. Program ini lebih dikenal sebagai sertifikasi dai.

    Ketua Komisi Dakwah dan Pengembangan Masyarakat MUI Pusat, M. Cholil Nafis mengatakan mereka mengundang para dai yang sudah sering berdakwah untuk bermusyawarah menyatukan visi soal dakwah.

    "Merekalah yang nantinya akan direkomendasikan oleh MUI sebagai dai," kata Cholil dalam keterangan tertulis, Selasa, 19 November 2019.

    Adapun materi dakwah yang diharapkan disebarkan oleh para dai ialah Islam wasathi atau Islam moderat. Materi Wasasan Islam wasathi yang mengulas tentang paham Islam yang diajarkan Rasulullah SAW dan para sahabatnya. "Islam yang tidak ekstrim kanan atau ekstrim kiri," kata dia.

    Selain itu, para pendakwah juga diberikan materi mengenai wawasan kebangsaan. Wawasan kebangsaan itu, kata dia, bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia sesuai dengan ajaran Islam, sudah final dan mengikat.

    "Sementara, metode dakwah yang disepakati adalah yang menguatkan keagamaan Islam sekaligus memperkokoh persatuan dalam bingkai NKRI," katanya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tips Menghadapi Bisa Ular dengan Menggunakan SABU

    Untuk mengatasi bisa ular, dokter Tri Maharani memaparkan bahwa bisa ular adalah protein yang hanya bisa ditawar dengan SABU polivalen.