Anis Matta Bantah Partai Gelora Barisan Sakit Hati PKS

Reporter:
Editor:

Amirullah

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Fahri Hamzah (kiri) bersama Anis Mata saat merayakan Hari Sumpah Pemuda dengan Partai Gelora. Instagram/@partai_gelora

    Fahri Hamzah (kiri) bersama Anis Mata saat merayakan Hari Sumpah Pemuda dengan Partai Gelora. Instagram/@partai_gelora

    TEMPO.CO, Jakarta - Ketua Umum Partai Gelora Anis Matta menyatakan partai yang baru ia dirikan tersebut tidak bekerja atas dasar sakit hati kepada Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Meski begitu, ia tak menampik bahwa Gelora lahir berlatar belakang konflik dengan PKS.

    “Saya tidak menafikan bahwa kami punya konflik dulu di PKS ya. Ini fakta yang tidak bisa kami ingkari, tapi kami tidak bekerja dengan latar sakit hati,” kata Anis ditemui pada syukuran Partai Gelora di Upnormal Kemang, Jakarta, Ahad 10 November 2019.

    Ia juga menyebut partai Gelora tidak dilahirkan untuk menggembosi PKS. “Kalau kami hadir, kami tidak perlu menyisihkan orang,” ucapnya.

    Anis mengatakan pada dasarnya semua narasi yang dikembangkan Partai Gelora sudah pernah ia lakukan di PKS, baik saat menjabat Sekretaris Jenderal, mau pun saat menjadi Presiden PKS.

    Narasi tersebut, kata dia, sudah ia kuatkan. Sehingga saat ia dan loyalisnya dari PKS membentuk Gelora, narasi yang sama tetap ia usung. “Ini menjadi salah satu titik perbedaan yang fundamental. Terutama di masalah keterbukaan,” tutur Anis.

    Wakil Ketua Umum Gelora, Fahri Hamzah mengatakan, saat ini ia dan punggawa Gelora lainnya tengah memproses legalitas mereka sebagai partai. Sementara itu, Fahri mengungkapkan struktur staf teras Gelora.

    “Ketua umum kami adalah Pak Anis, saya wakil ketua umum, Sekjennya Pak Mahfud Sidiq, Bendahara Umumnya Pak Ahmad Liyaldi. Kami berempat ini memang pernah menjadi anggota DPR,” kata Fahri dalam syukuran partai Gelora di Upnormal, Kemang, Jakarta, Ahad 10 November 2019.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Intoleransi di Bantul dan DIY Yogyakarta dalam 2014 hingga 2019

    Hasil liputan Tempo di DIY Yogyakarta, serangan terhadap keberagaman paling banyak terjadi di Bantul sepanjang 2014 sampai 2019.