Bivitri Sebut Jokowi Pakai MK Sebagai Alasan Tak Teken Perpu KPK

Reporter:
Editor:

Syailendra Persada

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Aliansi Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia (BEM SI) wilayah Jabodetabek-Banten saat menggelar unjuk rasa bertajuk #TuntaskanReformasi di sekitar kawasan Patung Kuda, Monas Jakarta, Kamis 17 Oktober 2019. Mahasiswa dalam aliansi BEM SI Jabodetabek - Banten yang akan terlibat demonstrasi menuntut kepada Presiden Joko Widodo mengeluarkan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perpu) guna membatalkan perubahan atas UU KPK. TEMPO/Subekti.

    Aliansi Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia (BEM SI) wilayah Jabodetabek-Banten saat menggelar unjuk rasa bertajuk #TuntaskanReformasi di sekitar kawasan Patung Kuda, Monas Jakarta, Kamis 17 Oktober 2019. Mahasiswa dalam aliansi BEM SI Jabodetabek - Banten yang akan terlibat demonstrasi menuntut kepada Presiden Joko Widodo mengeluarkan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perpu) guna membatalkan perubahan atas UU KPK. TEMPO/Subekti.

    TEMPO.CO, Jakarta - Pakar hukum tata negara Bivitri Susanti menilai penjelasan Presiden Joko Widodo atau Jokowi yang tidak mau menerbitkan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Komisi Pemberantasan Korupsi (Perpu KPK) karena masih digugat ke Mahkamah Konstitusi menyesatkan.

    Ia mengatakan presiden dapat menerbitkan perpu kapan saja. "Argumentasi presiden mau menunggu proses MK itu keliru. Itu pernyataan yang keliru dan menyesatkan. Menurut saya kok terlalu mengada-ada," kata Bivitri dalam diskusi di kantor Indonesia Corruption Watch, Jakarta, Ahad, 3 November 2019.

    Pendiri Sekolah Tinggi Hukum Indonesia Jentera ini mengatakan penerbitan perpu merupakan hak subjektif presiden yang tidak bergantung pada proses MK atau proses legislasi. "Jadi perpu itu kapan saja presiden secara subjektif merasa ada hal ihwal kegentingan memaksa bisa keluar," kata dia.

    Bivitri mengatakan dalih sopan santun yang disampaikan Jokowi juga tidak tepat. Ia yakin sembilan hakim MK yang menyidangkan gugatan UU KPK paham mengenai hukum.

    Sebaliknya, Bivitri menduga Jokowi hanya menggunakan MK sebagai dalih untuk tidak mengeluarkan perpu KPK. Ia mengatakan sikap Jokowi itu mengindikasikan bahwa mantan Gubernur DKI Jakarta ini tidak mendukung pemberantasan korupsi.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Salip Menyalip Tim Sepak Bola Putra Indonesia Versus Vietnam

    Timnas U-23 Indonesia versus Vietnam berlangsung di laga final SEA Games 2019. Terakhir sepak bola putra meraih emas di SEA Games 1991 di Filipina.