Istri Imam Nahrawi: Saya Saksinya Miftahul Ulum

Reporter:
Editor:

Purwanto

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Istri mantan Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi, Shobibah Rohmah, memenuhi panggilan penyidik KPK untuk menjalani pemeriksaan, di gedung Komisi Pemberantasan korupsi, Jakarta, Kamis, 24 Oktober 2019. Shobibah Rohmah, diperiksa sebagai saksi untuk tersangka suaminya mantan Menpora, Imam Nahrawi, dalam tindak pidana korupsi dugaan suap menerima hadiah atau janji terkait penyaluran pembiayaan dengan skema bantuan pemerintah melalui Kemenpora kepada Komite Olahraga Nasional Indonesia tahun anggaran 2018. TEMPO/Imam Sukamto

    Istri mantan Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi, Shobibah Rohmah, memenuhi panggilan penyidik KPK untuk menjalani pemeriksaan, di gedung Komisi Pemberantasan korupsi, Jakarta, Kamis, 24 Oktober 2019. Shobibah Rohmah, diperiksa sebagai saksi untuk tersangka suaminya mantan Menpora, Imam Nahrawi, dalam tindak pidana korupsi dugaan suap menerima hadiah atau janji terkait penyaluran pembiayaan dengan skema bantuan pemerintah melalui Kemenpora kepada Komite Olahraga Nasional Indonesia tahun anggaran 2018. TEMPO/Imam Sukamto

    TEMPO.CO, Jakarta - Shobibah Rohmah yang merupakan istri dari mantan Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Imam Nahrawi (IMR) enggan mengomentari terkait pemeriksaannya sebagai saksi di gedung Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Jakarta, Kamis.

    "Saya mohon maaf saya saksinya Miftahul Ulum bukan saksinya bapak (Imam Nahrawi)," ucap Shobibah.

    Namun, dalam jadwal yang dikeluarkan KPK pada Kamis, Shobibah diperiksa sebagai saksi untuk tersangka Imam dalam penyidikan kasus suap terkait penyaluran pembiayaan dengan skema bantuan pemerintah melalui Kemenpora pada KONI Tahun Anggaran 2018.

    Saat ditanya soal materi pemeriksaannya, ia enggan menjelaskannya lebih lanjut.

    "Saya lupa, terima kasih ya, mohon maaf," ucap Shobibah.

    Diketahui, KPK pada Rabu (18/9) telah menetapkan Imam dan Miftahul Ulum (MIU) yang merupakan asisten pribadinya sebagai tersangka.

    Imam diduga menerima uang dengan total Rp26,5 miliar.

    Uang tersebut diduga merupakan "commitment fee" atas pengurusan proposal hibah yang diajukan oleh pihak KONI kepada Kemenpora Tahun Anggaran 2018, penerimaan terkait Ketua Dewan Pengarah Satlak Prima, dan penerimaan lain yang berhubungan dengan jabatan Imam selaku Menpora.

    Uang tersebut diduga digunakan untuk kepentingan pribadi Menpora dan pihak Iain yang terkait.

    Selain itu, tersangka Imam juga telah mengajukan permohonan praperadilan di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. Sidang praperadilan Imam akan digelar pada Senin.

    ANTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Menunggu Dobrakan Ahok di Pertamina

    Basuki Tjahaja Purnama akan menempati posisi strategis di Pertamina. Ahok diperkirakan akan menghadapi banyak masalah yang di BUMN itu.