Selasa, 24 September 2019

Kecelakaan Kapal Laut, Basarnas Diminta Bekali SAR ke Nelayan

Reporter:
Editor:

Dwi Arjanto

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Nelayan pulau Masalembu  dukung Mentri susi soal larangan cantrang. Foto: Musthofa Bisri

    Nelayan pulau Masalembu dukung Mentri susi soal larangan cantrang. Foto: Musthofa Bisri

    TEMPO.CO, Sumenep -Kecelakaan kapal laut berupa terbakarnya Kapal Ro-Ro Santika Nusantara di perairan Pulau Masalembu, Kabupaten Sumenep, Jumat, 23 Agustus 2019 bukanlah yang pertama.

    Pada Mei 2017, Kapal Mutiara Sentosa 1 juga mengalami musibah serupa. Namun yang paling legendaris adalah terbakarnya Kapal Tampomas II.

    Peristiwa kecelakaan kapal laut yang dikenal dengan istilah 'Neraka 30 jam' itu terjadi 1981 dan menewaskan ratusan penumpangnya.

    Cukup seringnya terjadi kecelakaan laut di perairan itu, DPRD Sumenep mengusulkan agar Badan SAR Nasional membuka kantor cabang di Masalembu. Agar bila sewaktu-waktu terjadi insiden, proses evakuasi dan penyelematan penumpang lebih cepat.

    "Sampai setelah jumatan, Tim SAR belum mencapai lokasi kebakaran," kata Anggota DPRD Sumenep asal Masalembu, Darul Hasyim Fath.

    Darul memaklumi, jika tim SAR terlambat mencapai lokasi. Sebab, meski secara administrasi wilayah Masalembu masuk wilayah Pulau Madura, namun secara geografis lebih dekat dengan Pulau Sulawesi atau Kalimantan. Sedangkan Jarak Surabaya-Masalembu adalah 12 jam pelayaran dalam kondisi cuaca normal.

    Bila Basarnas tak memungkinkan membuka kantor khusus di Masalembu. Darul punya usul lain yaitu Tim SAR melatih para pemuda dan nelayan di sana, tentang keterampilan tanggap bencana dan evakuasi dasar. Sekaligus peralatan yang dibutuhkan.

    "Dalam beberapa kejadian, toh nelayan yang sampai duluan untuk menolong, kenapa tidak sekalian diberdayakan dan dilatih," ujar politisi PDIP itu.

    Kapal Santika Nusantara terbakar Kamis malam sekitar jam 20.00 WIB. Api sempat berhasil dipadamkan namun sebagian penumpang telah berada di liferaft atau kapal penyelamatan.
    Sempat terjadi kebocoran di salah satu liferaft, sehingga semua orang di dalam ditarik kembali ke atas kapal.

    Soal jumlah manifes masih simpang siur. Ada yang menyebut 111 penumpang tapi versi lain menyebut 143 orang. Yang pasti saat ini, 49 Penumpang berhasil dievakuasi nelayan dan saat ini sedang dirawat di Puskesmas dan kantor Syahbandar Masalembu. Dua penumpang dikabarkan meninggal dalam kecelakaan kapal laut tersebut.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Chip Smart SIM Catat Data Forensik dan Pelanggaran Lalu Lintas

    Berbeda dari kartu SIM sebelumnya, Smart SIM memiliki tampilan baru dan sejumlah fitur tambahan. Termasuk menjadi dompet elektronik.