Kala Sohibul Iman Menegaskan Posisi PKS Jadi Oposisi Jokowi

Reporter:
Editor:

Syailendra Persada

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Sohibul Iman, menggunakan hak pilihnya di TPS 245, Kelurahan Tugu, Kecamatan Cimanggis, Depok, Jawa Barat, 17 April 2019. Foto: Humas PKS

    Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Sohibul Iman, menggunakan hak pilihnya di TPS 245, Kelurahan Tugu, Kecamatan Cimanggis, Depok, Jawa Barat, 17 April 2019. Foto: Humas PKS

    TEMPO.CO, Jakarta - Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Sohibul Iman, mengatakan tidak ada partai yang siap menjadi oposisi selain mereka. Dia menilai partai ini telah berpengalaman menjadi oposisi yang melakukan check and balance.

    "Kami melihat partai lain tidak ada yang siap. Ya udah kami, lah jadi oposisi," kata Sohibul di acara Pembekalan Nasional Calon Anggota DPR RI dan DPRD di Jakarta, Senin, 5 Agustus 2019.

    Sohibul mengatakan, partai yang tak siap jadi oposisi itu termasuk yang diketuai oleh Prabowo Subianto, Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra).

    "Ya kalau sekarang Gerindra sudah ada proses ke sana ya sudah kami sebagai the last resort. Kami kini tumpuan terakhir dari terbangunnya demokrasi yang berkualitas," kata Sohibul.

    Menurut dia, partai yang tak siap jadi oposisi telah terlihat sejak pengumuman sengketa Pilpres di Mahkamah Konstitusi dan pengumuman penetapan capres terpilih oleh Komisi Pemilihan Umum.

    "Belum apa-apa sudah pada merapat, itu tanda-tandanya kan tidak siap beroposisi kalau menurut itu tafsirannya," katanya.

    Meski begitu, Sohibul mengatakan Gerindra masih menjadi sahabat bagi PKS. Dia masih berkeyakinan Gerindra akan memutuskan untuk menjadi oposisi. "Saya masih punya keyakinan unjung-ujungnya enggak kok, ga ke sana, InsyaAllah bersama kami," katanya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Demo Revisi UU KPK Berujung Rusuh, Ada 1.365 Orang Ditangkap

    Demonstrasi di DPR soal Revisi UU KPK pada September 2019 dilakukan mahasiswa, buruh, dan pelajar. Dari 1.365 orang yang ditangkapi, 179 ditahan.