Menanti Langkah Prabowo, Jadi Oposisi atau Gabung Koalisi

Reporter:
Editor:

Juli Hantoro

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Capres Prabowo Subianto memberikan keterangan pers terkait hasil putusan Mahkamah Konstitusi di kediaman Jalan Kertanegara, Jakarta, Kamis, 27 Juni 2019. Dengan putusan ini, pasangan Jokowi-Ma'ruf Amin tetap memenangi Pilpres 2019. TEMPO/Subekti.

    Capres Prabowo Subianto memberikan keterangan pers terkait hasil putusan Mahkamah Konstitusi di kediaman Jalan Kertanegara, Jakarta, Kamis, 27 Juni 2019. Dengan putusan ini, pasangan Jokowi-Ma'ruf Amin tetap memenangi Pilpres 2019. TEMPO/Subekti.

    TEMPO.CO, Jakarta - Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto akan mengumpulkan anggota Dewan Pembina pada Jumat, 19 Juli 2019 malam di Hambalang, Bogor, Jawa Barat. Pertemuan malam nanti akan membahas posisi Gerindra lima tahun ke depan setelah Prabowo kalah di Pemilihan Presiden 2019.

    Setelah pertemuan dengan rivalnya di Pilpres, Joko Widodo atau Jokowi, banyak yang menduga Prabowo akan ikut dalam gerbong pemerintah lima tahun mendatang. Namun sebagian besar pendukung Prabowo menuntut mantan Komandan Jenderal Komando Pasukan Khusus itu menjadi oposisi.

    Presiden Jokowi (kedua kanan) dan Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto (kiri) melambaikan tangannya saat tiba di Stasiun MRT Lebak Bulus, Jakarta, Sabtu, 13 Juli 2019. Kedua kontestan dalam Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden tahun 2019 lalu ini bertemu di Stasiun MRT Lebak Bulus dan selanjutnya naik MRT bersama-sama. ANTARA/Wahyu Putro A

    Sekretaris Jenderal Partai Gerindra Ahmad Muzani mengakui ada perbedaan pendapat di internal partainya ihwal bergabung ke pemerintah atau menjadi oposisi. Perbedaan pandangan itu disebutnya sesuatu yang wajar terjadi di internal Gerindra.

    Namun, Muzani mengatakan internal partai akan bersatu setelah Prabowo mengambil keputusan. "Semuanya nanti akan bersatu padu ketika Pak Prabowo sudah mengambil keputusan," kata Muzani di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis, 18 Juli 2019.

    Menurut Muzani, Prabowo sebagai Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra sebenarnya memiliki kewenangan untuk menentukan sikap politik partai. Namun dia berujar, Prabowo biasa menghimpun masukan dari internal partainya sebelum mengambil keputusan.

    Selain pandangan dari internal Gerindra, kata Muzani, Prabowo juga mendengarkan masukan dari partai-partai pengusungnya di pemilihan presiden 2019. Dia mengklaim suara relawan dan pendukung pun ikut diperhatikan.

    "Pak Prabowo memiliki kewenangan apakah akan putusnya besok, lusa, bulan depan. Tapi semua pandangan yang berkembang dari masyarakat, dari para pendukung, dari partai koalisi yang telah mengusungnya, beliau mencermati dengan seksama," kata Muzani.

    Sebelumnya, Prabowo bertemu salah satu tokoh pendukungnya, Amien Rais. Amien bertemu dengan Prabowo di rumah anggota Dewan Pembina Gerindra, Maher Algadri, di kawasan Kemang, Jakarta Selatan, pada Selasa, 16 Juli 2019. Menurut penuturan Amien, pertemuan itu berlangsung selama 25 menit.

    Amien menuturkan Prabowo menjelaskan tujuannya bertemu Jokowi adalah murni untuk menghapuskan polarisasi yang belakangan populer dengan sebutan cebong (bagi pendukung Jokowi) dan kampret (bagi pendukung Prabowo). “Jadi hanya betul-betul pertemuan dua tokoh yang intinya supaya tidak ada lagi cebong dan kampret ya. Sehingga tinggal cebong bersayap, artinya sudah akur gitu,” tuturnya.

    Selain itu, Amien mengatakan, Prabowo juga menyatakan komitmennya. Menurut Amien, komitmen Prabowo persis seperti yang dituliskan Ketua Umum Partai Gerindra ini di unggahan akun Instagramnya pada Ahad 14 Juli 2019.

    Saat berbicara pada wartawan, Amien mencetak unggahan Prabowo ini dalam secarik kertas.

    Berikut komitmen Prabowo, dikutip dari akun Instagram pribadinya @Prabowo: “Assalamualaikum Wr. Wb. Seluruh hidup saya telah saya persembahkan kepada kepentingan Bangsa dan Republik Indonesia. Saya tidak akan pernah tawar-menawar terhadap cita-cita dan nilai yang saya pegang yaitu Indonesia yang merdeka, berdaulat, adil, dan makmur. Indonesia yang berdiri di atas kaki kita sendiri. Rakyat Indonesia yang menikmati hasil kekayaan dari Indonesia sendiri. Indonesia yang utuh dari Sabang sampai Merauke, Bhinneka Tunggal Ika yang berdasarkan UUD 45. Wassalamualaikum Wr. Wb.”

    Menurut penuturan Amien, Prabowo akan mensyaratkan gabung dengan Jokowi berdasarkan hal-hal ini: kedaulatan pangan, kedaulatan energi, kedaulatan air, memperkuat ketahanan bangsa, perbaikan kekuatan militer, dan pro kepada rakyat.

    Kalau hal-hal ini tak terpenuhi, ujar Amien, maka Prabowo akan memilih sebagai oposisi. “Kalau tidak (dipenuhi) itu namanya kooptasi. Dan itu tentu tidak akan bisa, dan jelas sekali akan memilih sebagai oposisi yang bertanggungjawab, demokratis, terbuka, santun, etis, ethical juga kemudian juga ada loyal dan objektif,” ujarnya.

    Dukungan agar Prabowo membawa gerbong koalisinya untuk menjadi oposisi diungkapkan Mahfud MD. Menurut Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi itu rakyat saat ini lebih menghendaki Prabowo Subianto mengambil posisi memimpin oposisi di parlemen sebagai kontrol terhadap pemerintahan selama lima tahun ke depan.

    "Rakyat seperti kita-kita ini lebih suka Pak Prabowo memimpin oposisi di parlemen," kata Mahfud di Universitas Islam Indonesia (UII), Yogyakarta, Senin, 15 Juli 2019.

    BUDIARTI UTAMI PUTRI|ANTARA|FIKRI ARIGI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.