Saat Gatot Nurmantyo Sebut Jutaan Hektare Lahan Dikuasai Asing

Reporter:
Editor:

Juli Hantoro

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Mantan Panglima TNI Jenderal purnawirawan Gatot Nurmantyo saat menghadiri diskusi di Jakarta Convention Center, 24 Juli 2018. TEMPO/Friski Riana

    Mantan Panglima TNI Jenderal purnawirawan Gatot Nurmantyo saat menghadiri diskusi di Jakarta Convention Center, 24 Juli 2018. TEMPO/Friski Riana

    TEMPO.CO, Jakarta - Mantan Panglima TNI Jenderal Purnawirawan Gatot Nurmantyo mengatakan bahwa setelah reformasi jutaan hektare lahan di Indonesia dikuasai orang asing.

    Baca juga: Halal Bihalal Purnawirawan TNI, Gatot Nurmantyo Bahas Mati Syahid

    "Setelah reformasi, UUD 1945 rohnya mulai hilang, sehingga ada jutaan hektar tanah kita dikuasai asing," kata Gatot dalam acara halal bihalal Purnawarman ABRI, TNI dan Polri di Masjid Agung At Tin Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta Timur, Selasa, 25 Juni 2019.

    Menurut Gatot, sebagian orang Indonesia melupakan apa yang disampaikan dari pembukaan UUD 1945. Padahal, UUD 1945 dalam pembukaannya dibuat karena memahami kondisi Indonesia.

    Saat Indonesia baru merdeka, kata Gatot, negara ini masih miskin sumber daya manusia, tetapi kaya dengan sumber daya alam. Makanya, kata dia, dalam pembukaan UUD tersebut tujuan nasionalnya ada dalam kutipan melindungi segenap bangsa dan tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum.

    "Melindungi tumpah darah Indonesia itu bukan hanya manusianya saja, tapi sumber daya alamnya juga dilindungi. Namun orang melupakan apa yang disampaikan pembukaan UUD tadi."

    Bahkan, kata Gatot, dalam pasal 33 UUD 1945 dan tertuang pada ayat 3 menyatakan bahwa bumi, air, dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan sebesar-besar untuk kemakmuran rakyat. "Pendiri bangsa sudah mewaspadai ini dan mengingatkan agar SDA digunakan sebenar-benarnya," ujar dia.

    Selain itu, Gatot pun menyinggung situasi saat ini berkaitan masalah kerja sama ekonomi. Menurut dia, kerja sama ekonomi adalah suatu mufakat yang niscaya memang harus dilakukan.

    Namun, kata dia, yang perlu diingat adalah jangan sampai ruang hidup rakyat Indonesia ikut diserahkan. Gatot mencontohkan, saat ini etnis Betawi telah terpinggirkan di kotanya di Jakarta. "Di Sudirman sudah minggir semua "

    Bahkan, Resimen Induk Daerah Militer TNI yang pernah berada di kawasan Ciganjur pun bergeser karena pembangunan. Saat ini, Rindam TNI bergeser ke kawasan Bumi Serpong Damai. "Sekarang BSD jadi kota geser lagi. Gak tahu nanti ke mana. Ke Pelabuhan Ratu kali nanti," ujarnya.

    Gatot pun mengingatkan agar rakyat Indonesia terus waspada. Ia kembali memberi contoh bahwa etnis Indian di Amerika hilang di tanah lahirnya sendiri. Selain itu, etnis Melayu Singapura juga sudah ke pinggir. "Siapa lagi. Kalau bukan kita-kita harus siapa lagi yang berjuang," ujarnya.

    Baca juga: Datang Acara Prabowo, Gatot Nurmantyo: Saya tak Mencari Jabatan

    Kata Gatot, dalam pembangunan industri pun rakyat Indonesia perlahan tersisihkan. Sebab, ujar dia, dahulu industri Indonesia merupakan padat karya yang menyerap tenaga kerja, tetapi sekarang digantikan robot.

    Belum lagi, Gatot Nurmantyo mengimbuhkan, tenaga kerja yang diimpor ke Indonesia. Setiap penduduk dunia, kata dia, bisa tinggal di mana pun juga asal dapat izin. "Ini yang saya katakan bisa merugikan jika kita tidak waspada. Sebab mereka pindah ke suatu negara sudah mempersiapkan skill. Apalagi kita juga menerapkan bebas visa," ujarnya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Palapa Ring Akan Rampung Setelah 14 Tahun

    Dicetuskan pada 2005, pembangunan serat optik Palapa Ring baru dimulai pada 2016.