Indonesia Kembalikan Lima Kontainer Limbah Impor ke AS

Reporter:
Editor:

Erwin Prima

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sejumlah pekerja sedang memilah plastik yang akan didaur ulang di Jayanti, Tangerang, Banten, Rabu (22/7). Dalam setiap minggunya limbah plastik yang siap didaur ulang ini terkumpul sebanyak 3-4 ton.TEMPO/Tri Handiyatno

    Sejumlah pekerja sedang memilah plastik yang akan didaur ulang di Jayanti, Tangerang, Banten, Rabu (22/7). Dalam setiap minggunya limbah plastik yang siap didaur ulang ini terkumpul sebanyak 3-4 ton.TEMPO/Tri Handiyatno

    TEMPO.CO, Jakarta - Indonesia telah mengembalikan lima kontainer limbah ke Amerika Serikat dan menolak menjadi tempat pembuangan. Indonesia menjadi negara Asia Tenggara terbaru yang mengembalikan limbah impor.

    Baca: DLH Bakal Jatuhkan Sanksi Pengusaha Buang Limbah ke Kali Sunter

    Wadah tersebut seharusnya hanya berisi potongan kertas, menurut dokumen bea cukai. Namun sebaliknya, kontainer itu memuat sampah lain, termasuk botol, sampah plastik, dan popok, kata pejabat senior kementerian lingkungan Sayid Muhadhar. "Ini tidak tepat dan kami tidak ingin menjadi tempat pembuangan," kata Muhadhar kepada AFP, Sabtu, 15 Juni 2019.

    Lima kontainer milik perusahaan Kanada itu dikirim dari Seattle di Amerika Serikat ke kota terbesar kedua di Indonesia, Surabaya, pada akhir Maret. Tidak jelas dari mana sampah itu berasal.

    Indonesia saat ini sedang memeriksa beberapa peti kemas lainnya di pelabuhan Jakarta dan kota Batam di pulau Sumatra. Indonesia adalah negara terbaru yang mengembalikan sampah impor setelah negara tetangga Malaysia bersumpah untuk mengirim kembali ratusan ton sampah plastik bulan lalu.

    Filipina telah memerintahkan berton-ton sampah yang dibuang di negara itu untuk dikirim kembali ke Kanada, dan memicu pertikaian diplomatik antara kedua negara.

    Selama bertahun-tahun Cina menerima sebagian besar plastik bekas dari seluruh dunia, tetapi menutup pintunya bagi asing tahun lalu dalam upaya untuk membersihkan lingkungannya.

    Sejak saat itu, sejumlah besar limbah telah dialihkan ke Asia Tenggara, termasuk Malaysia, Indonesia, dan Filipina.

    Sekitar 300 juta ton plastik diproduksi setiap tahun. Sebagian besar limbah itu berakhir di tempat pembuangan sampah atau di laut, menurut Worldwide Fund for Nature.

    AFP | PUNCH


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Upaya Pemerintah Mengolah Sampah Menjadi Bahan Baku PLTSa

    Pemerintah berupaya mengurangi persoalan sampah dengan cara mengolahnya menjadi energi penggerak PLTSa di duabelas kota di Indonesia.