Menengarai Preman yang Diduga Ada di Balik Kerusuhan 22 Mei

Reporter:
Editor:

Tulus Wijanarko

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sisa-sisa kerusuhan di depan Gedung Bawaslu, Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat, Kamis pagi, 23 Mei 2019. TEMPO/Egi Adyatama

    Sisa-sisa kerusuhan di depan Gedung Bawaslu, Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat, Kamis pagi, 23 Mei 2019. TEMPO/Egi Adyatama

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan Wiranto sudah lama menengarai ada kelompok preman bertato yang terlibat kerusuhan 22 Mei 2019. Dia menyebut preman itu dibayar untuk membuat rusuh. “Yang menyerang itu preman-preman yang dibayar, bertato,” kata dia di kantornya Jakarta, Rabu, 22 Mei 2019, silam.

    Baca juga: Komnas HAM: CCTV Bisa Jadi Alat Bukti Kerusuhan 22 Mei

    Penelusuran Majalah Tempo edisi 10 Juni mengungkap salah satu kelompok yang diduga dibicarakan Wiranto kala itu. Salah satunya Abdul Gani Ngabalin, yang memiliki beberapa nama alias. Abdul Gani adalah bekas anak buah Rozario Marshal alias Hercules, preman Tanah Abang. Gani kini ditahan di Kepolisian Daerah Metropolitan Jakarta Raya karena diduga terlibat dalam kerusuhan di sekitar Bawaslu.

    Sejumlah sumber di Badan Pemenangan Nasional Prabowo-Sandi mengatakan Abdul Gani menjabat Panglima Garda Prabowo. Garda Prabowo adalah kelompok relawan pendukung Prabowo Subianto-Sandiaga Uno yang didirikan dan dipimpin Fauka Noor Farid. Nama terakhir adalah mantan anak buah Prabowo saat masih berdinas di Komando Pasukan Khusus. Fauka merupakan anggota Tim Mawar yang terlibat penculikan aktivis 1998.

    Menjelang 22 Mei, Abdul Gani diduga ikut mengerahkan massa dari berbagai daerah, antara lain Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Maluku. Keesokan harinya, Abdul Gani ikut berunjuk rasa. Tempo memperoleh salinan transkripsi percakapan Abdul Gani dengan Fauka menjelang kerusuhan pecah malam itu.

    Fauka mengaku kenal dengan Abdul Gani dan sering bertemu di kawasan Kartanegara, Jakarta Selatan. Tapi ia membantah memiliki kedekatan dengan pria asal Pulau Kei, Maluku, tersebut. Ia menyangkal keanggotaan Abdul Gani di Garda Prabowo, ia juga membantah memerintahkan menggalang massa. “Kurang kerjaan,” kata dia.

    Baca selengkapnya di Majalah Tempo, klik di sini:

    https://majalah.tempo.co/read/157812/bau-mawar-di-jalan-thamrin


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.