DPR Minta TNI Lebih Ofensif dalam Memberantas KKB Nduga

Reporter:
Editor:

Tulus Wijanarko

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Prajurit TNI dan Polri mengangkat peti jenazah korban penembakan kelompok kriminal bersenjata (KKB) yang tiba di Landasan Udara Hasanuddin, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, Jumat, 7 Desember 2018. Sebanyak 16  jenazah korban penembakan KKB di Nduga dipulangkan dan  diserahterimakan kepada pihak keluarga. ANTARA/Abriawan abhe

    Prajurit TNI dan Polri mengangkat peti jenazah korban penembakan kelompok kriminal bersenjata (KKB) yang tiba di Landasan Udara Hasanuddin, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, Jumat, 7 Desember 2018. Sebanyak 16 jenazah korban penembakan KKB di Nduga dipulangkan dan diserahterimakan kepada pihak keluarga. ANTARA/Abriawan abhe

    TEMPO.CO, Jakarta - Ketua DPR RI Bambang Soesatyo Meminta TNI melakukan operasi yang lebih ofensif dalam menumpas gerakan Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) di Nduga, Papua dan sekitarnya.

    Baca: Kontak Senjata di Papua, 3 Prajurit TNI Gugur

    "Setelah tewas sejumlah prajurit TNI dan warga sipil, diperlukan respons yang lebih tegas dan terukur. Karena itu, operasi yang lebih ofensif tampaknya sangat diperlukan untuk menumpas gerakan KKB di Nduga dan sekitarnya," kata Bambang Soesatyo, dalam keterangan tertulisnya, di Jakarta, Jumat, 8/3.

    Bambang Soesatyo menyatakan berbelasungkawa atas meninggalnya tiga prajurit TNI dalam kontak senjata dengan kelompok kriminal bersenjata (KKB) di Nduga, Papua, pada Kamis, 7/3, itu. Menurut dia, untuk menjaga moral seluruh prajurit yang bertugas di Nduga, pemerintah dan TNI harus mengeskalasi kekuatan atau penambahan pasukan di Nduga.

    "Dengan kekuatan yang lebih memadai, saya juga mendorong dilakukan eskalasi operasi," kata dia. Bambang menilai dari kronologi peristiwa kontak senjata pada Kamis itu, terkesan kekuatan KKB tidak bisa dianggap remeh karena masih mampu memberi perlawanan.

    Mereka bahkan juga mengganggu proses evakuasi ketika helikopter yang akan mengangkut prajurit TNI yang gugur masih ditembaki KKB.

    Selain itu, menurut dia, kemampuan KKB membawa lari jenazah rekan mereka yang tewas, juga membuktikan kekuatan KKB yaitu memiliki markas dan tempat-tempat persembunyian di Nduga. "Operasi yang lebih ofensif diperlukan untuk menjangkau dan menemukan tempat-tempat persembunyian KKB."

    Dia mengatakan, selain memperkuat moral prajurit TNI, operasi yang lebih ofensif secara tidak langsung akan meningkatkan aspek pengamanan proses pembangunan infrastruktur di Nduga. Dia ingin pembangunan di Papua tidak boleh dihambat gerakan KKB.

    Selain itu, Bambang Soesatyo mengimbau penghormatan kepada ketiga prajurit yang tewas di Nduga harus dilakukan negara melalui TNI. Kepada mereka yang gugur diberi penghargaan serta apresiasi kepada keluarga yang ditinggalkan.

    ANTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Eliud Kipchoge Tak Pecahkan Rekor Dunia Marathon di Ineos 1:59

    Walau Eliud Kipchoge menjadi manusia pertama yang menempuh marathon kurang dari dua jam pada 12 Oktober 2019, ia tak pecahkan rekor dunia. Alasannya?