Cerita TNI Siapkan Konsumsi Munas Ulama NU: Masak Sambil Tidur

Reporter:
Editor:

Syailendra Persada

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Suasana bazar saat Munas Alim Ulama dan Konferensi Besar (Konbes) NU di Pondok Pesantren Miftahul Huda Al-Azhar Citangkolo, Banjar, Jawa Barat, 27 Februari 2019. TEMPO/M Taufan Rengganis

    Suasana bazar saat Munas Alim Ulama dan Konferensi Besar (Konbes) NU di Pondok Pesantren Miftahul Huda Al-Azhar Citangkolo, Banjar, Jawa Barat, 27 Februari 2019. TEMPO/M Taufan Rengganis

    TEMPO.CO, Banjar - Perhelatan Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama (Munas Ulama NU) yang berlangsung di Pondok Pesantren Miftahul Huda Al-Azhar, Kota Banjar, Jawa Barat, diikuti oleh ribuan peserta. Untuk membantu menyiapkan konsumsi, panitia dan pondok pesantren meminta bantuan TNI untuk memasak.

    Baca: Munas Alim Ulama NU Sepakati Pengertian Islam Nusantara

    Acara yang berlangsung sejak 27 Februari hingga 1 Maret 2019 ini menyisakan cerita tersendiri bagi personel satuan Pembekalan Angkutan Angkatan Darat Daerah Militer III Siliwangi (Bekangdam III/SLW), Mayor Deni Sutendi, yang bertugas di dapur umum. Harus menyiapkan masakan hingga 10 ribu porsi per hari, cukup menguras energi Deni dan rekannya.

    "Ada anggota yang sampai ketiduran lagi masak. Matanya merem tangannya ngaduk-ngaduk itu (wajan)," kata Deni sambil tertawa kala ditemui Tempo di dapur umum, kompleks pondok pesantren, Jumat, 1 Maret 2019.

    Deni menjelaskan panitia Munas-Konbes NU meminta bantuan TNI untuk menyiapkan makanan bagi peserta tiga kali sehari, yakni sarapan, makan siang, dan makan malam. Setiap sesi, panitia meminta disiapkan antara 1.500 hingga 3 ribu porsi.

    Untuk memenuhi tuntutan itu, kata Deni, pihaknya menerjunkan 102 personel dan menyediakan 85 kompor gas termasuk dengan peralatan masak seperti wajan yang berukuran jumbo.

    Waktu yang diperlukan para anggota TNI ini dalam menyiapkan makanan untuk satu kali sesi bisa mencapai 8 jam. Deni mencontohkan sarapan pagi tadi dengan menu ayam goreng proses memasaknya sudah mulai sejak pukul 21.30, kemarin.

    "Karena ayamnya, kan, banyak. Jadi mesti satu-satu dibersihkan, diolah. Tapi kalau bahan yang lain, yang kira-kira lebih mudah, lebih cepat juga masaknya. Jadi tergantung bahan," kata dia.

    Deni berujar pelibatan TNI hanya sebatas membantu memasak. Sementara bahan makanan semua panitia yang menyediakan. "Kami hanya masak saja. Nah, soal menu, itu kami koordinasi dengan panitia," kata dia.

    Selain itu, memasak untuk para peserta Munas Alim Ulama yang pesertanya sebagian besar para kiai dari seluruh Indonesia ini, memberikan pengalaman spiritual untuk Deni. Ia berharap ada keberkahan karena bisa membantu mensukseskan acara.

    Simak juga: Munas Alim Ulama NU Tak Dihadiri Sejumlah Kiai Sepuh

    Tempo yang meliput Munas Ulama NU berkesempatan untuk mencicipi masakan buatan para personel TNI ini. Beragam menu Tempo coba mulai dari ayam goreng, ikan tongkol rica-rica, nasi goreng, sayur asam, sayur sop, semur telur, dan lainnya. Rasanya lezat. "Ya, Alhamdulillah, kalau suka," ucap Deni.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Obligasi Ritel Indonesia Seri 016 Ditawarkan Secara Online

    Pemerintah meluncurkan seri pertama surat utang negara yang diperdagangkan secara daring, yaitu Obligasi Ritel Indonesia seri 016 atau ORI - 016.