Bom Bunuh Diri di Filipina, Polri Tunggu Info Resmi dari Kemenlu

Reporter:
Editor:

Tulus Wijanarko

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Dua bom meledak di gereja Katedral Katolik di Jolo, Sulu, Filipina bagian selatan pada hari Minggu pagi, 27 Januari 2019,  menewaskan sedikitnya 27 orang dan 77 orang terluka. REUTERS

    Dua bom meledak di gereja Katedral Katolik di Jolo, Sulu, Filipina bagian selatan pada hari Minggu pagi, 27 Januari 2019, menewaskan sedikitnya 27 orang dan 77 orang terluka. REUTERS

    TEMPO.CO, Jakarta - Polri hingga kini masih menunggu kabar kepastian identitas pelaku serangan bom bunuh diri di sebuah gereja Katolik di Pulau Jolo, Filipina Selatan. Insiden bom bunuh diri itu terjadi pada 27 Januari 2019 lalu.

    "Belum ada info resmi dari Kementerian Luar Negeri. Masih tunggu klarifikasi," kata Kepala Bagian Penerangan Umum Divisi Humas Polri Komisaris Besar Syahar Diantono saat dihubungi, Ahad, 3 Februari 2019.

     

    Sebelumnya, Menteri Dalam negeri Filipina Eduardo Ano menyebut dua pelaku serangan bom bunuh diri di gereja merupakan pasangan suami-isteri warga negara Indonesia. Serangan tersebut menewaskan 22 orang, dan 100 orang luka-luka.

    "Yang bertanggung jawab adalah pelaku bom bunuh diri asal Indonesia. Namun kelompok Abu Sayyaf yang membimbing mereka, dengan mempelajari sasaran, melakukan pemantauan rahasia dan membawa pasangan ini ke gereja," kata Ano seperti diberitakan ABS-CBN News.

    Sedangkan, Direktur Senior Kepolisian Sulu Pablo Labra mengatakan, beberapa saksi mata melihat seorang pria dan wanita yang dipercaya bertanggung jawab atas aksi teror tersebut.

    ANDITA RAHMA | ANTARA | ABS-CBN NEWS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.