Analisis Peneliti LIPI soal Penyebab Longsor Sukabumi

Reporter:
Editor:

Amirullah

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Warga mencari sisa harta benda yang masih bisa digunakan pasca bencana tanah longsor di kampung adat Sinarresmi, Cisolok, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, Selasa 1 Januari 2019. ANTARA FOTO/Nurul Ramadhan

    Warga mencari sisa harta benda yang masih bisa digunakan pasca bencana tanah longsor di kampung adat Sinarresmi, Cisolok, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, Selasa 1 Januari 2019. ANTARA FOTO/Nurul Ramadhan

    TEMPO.CO, Bandung - Pakar dan peneliti longsor dari Pusat Penelitian Geoteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Bandung, Adrin Tohari, menganalisis penyebab longsor Sukabumi yang menimbun kampung adat Cigarehong, Cisolok. Dugaan kuat penyebab adalah faktor tata guna lahan dan keberadaan mata air.

    Baca: Longsor Sukabumi, Pemangku Adat Ungkap Tragedi 20 Tahun Silam

    Menurut Adrin, perubahan tata guna lahan akan mengganggu kondisi hidrologi lereng. Pepohonan dapat menahan dan mengontrol air hujan yang masuk ke dalam tanah. Namun, ketika pepohonan hilang menjadi lahan terbuka, tanamannya tidak sanggup mengendalikan air hujan yang masuk ke dalam tanah.

    Selain faktor hujan, pola aliran air bawah permukaan juga berperan memicu longsor. Ada kemungkinan, aliran air bawah permukaan dominan menuju ke bagian lereng yang disebabkan faktor geologi bawah permukaan.

    Ketika bagian lereng mudah jenuh dan atau muka air tanah mudah terbentuk di bagian lereng, kondisinya akan lebih rentan dibandingkan bagian lereng lainnya.
    "Prinsip dasarnya dari kejadian longsor di suatu lereng adalah kenaikan muka air tanah atau kejenuhan tanah," ujarnya.

    Adrin menduga ada aliran dari mata air ke bagian lereng yang longsor. Airnya biasa dipakai penduduk untuk kebutuhan harian, karena ada pemukiman di bawahnya.

    Baca: Kata PVMBG dan Ahli Soal Sebab Longsor di Sukabumi

    Dugaan kuat Adrin klop dengan keterangan pemangku adat atau kasepuhan Sirna Resmi Abah Asep Nugraha. Menurutnya di lereng itu ada beberapa mata air yang merembes. Warga menampungnya di selokan untuk kebutuhan air minum dan irigasi sawah. "Di atas ada mata air, beberapa keluar airnya merembes," ujarnya Rabu, 2 Januari 2019.

    Abah juga mengatakan, lereng sejak 20 tahun lalu dibuka untuk lahan sawah. Warga Kampung Cigarehong telah mendiami tanah adat itu sejak 1941-1942 dan mengandalkan padi untuk konsumsi harian sesuai aturan adat.

    Sebelumnya, kata Abah, kejadian longsor kecil telah terjadi di lereng itu sekitar 20 tahun silam. Dia juga telah mengingatkan warga untuk pindah, namun mereka terkendala urusan lahan dan membuat bangunan baru karena ekonomi warga pas-pasan.

    Longsor menimbun Kampung Cigarehong, Senin petang, 31 Desember 2018. Kampung itu, kata Abah, bagian dari kampung adat atau kasepuhan Sirna Resmi. Penghuninya 101 orang. Dari total  33 rumah kampung adat di sana, tiga diantaranya luput dari longsoran.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Arab Saudi Buka Bioskop dan Perempuan Boleh Pergi Tanpa Mahram

    Berbagai perubahan besar yang terjadi di Arab Saudi mulai dari dibukanya bioskop hingga perempuan dapat bepergian ke luar kerajaan tanpa mahramnya.